AUTHOR REVIEW
Nahkoda Perbankan Syariah Indonesia
Sumber: Majalah Forum, No. 7 / 13 Jun 2004, Hal 68--71

Suatu hari di sebuah hotel berbintang di Pulau Dewata. Dalam sebuah ruangan breakfest khusus, tampak seorang laki-laki perpakaian necis asyik memecet-mencet tuts piano mengusir jenuh. Sebuah hist The Bee-Gees ia nyanyikan. Tak lama berselang, suara tepuk tangan dari seseorang lelaki berwajah tampak tergesa datang mengagetkannya. Ternyata lelaki berwajah India itu telah lama di tunggu pemain piano, dan perbincangan serius pun dimulai.

Pendendang The Bee-Gees itu adalah Ahmad Riawan Amin, Direktur Utama Bank Muamalat Indonesia (BMI), sebuah bank yang kini cukup menarik perhatian masyarakat Indonesia. Meskipun kesibukan selalu memadati agenda kerjanya, ia tak pernah kehabisan ide untuk menuntaskan sedikit waktu luangnya agar tak hilang begitu saja.
Riawan tak pernah berpikir akan menduduki posisi puncak dalam bidang perbankan.

Ia mengawali karirnya dalam perbankan setelah sekolah dan bekerja di Amerika dalam waktu yang cukup lama. Pertama kali ia bergabung dengan Bank Duta 1980 (terakhir sebagai staf training), pindah ke Bank Universal 1992 (terakhir sebagai manager training). Pada 1993 ia bergabung dengan Bank Muamalat Indoneia sebagai Human Research and Delevopment (HRD) Division Head. Terakhir sebagai Vice President Individual Banking sebelum dipromosikan langsung sebagai Direktur Utama.

Dari perjalanan karirnya, terlihat bahwa Riawan banyak bergelut di bidang Sumber Daya Manusia (SDM). Itu sebabnya kepercayaan yang diberikan untuk memimpin BMI sejak 1999 sebagai hadiah Yang Maha Kuasa. Tadinya ia berpikir menduduki posisi Direktur SDM sebagai puncak karir.

Ketertarikan ayah 3 orang anak perempuan ini kepada bidang SDM memang sangat tinggi. “Karena di situlah kelemahan bangsa ini” ujurnya serius. Padahal, latar belakang pendidikannya justru arsitektur, sempat mengenyam studi di Universitas Indonesia di fakultas teknik dan Fisip, suami Mira Sri Ratna Damariati ini memperoleh beasiswa pendidikan di Amerika Serikat. Program master arsitektur dirampungkannya di Universitas of Texas di EL Paso, sebelum balik ke Indonesia, Riawan bekerja sebagai Environmental Engineer di AEGIS Int’I juga di EL Paso. Di tangan pria yang bisa memainkan musik gitar dan piano serta menggemari lagu-lagu The Rolling Stone ini BMI terus mengembangkan bisnis, meningkatkan profit usaha, mendorong syariahisasi perekonomian nasional dan menyejahterahkan umat.
“Saya ini demanding”,kata Riawan membuka salah satu resep kesuksesannya.


Ia bisa mengejar anak buahnya setiap saat hingga pekerjaan yang ia berikan terselesaikan. Tak jarang, seorang kepala bagian (kabag) di kantornya sedang cuti pulang kampung, ia mengirim electronic mail untuk sebuah pekerjaan. Bagi si kabag, tentu saja e-mail itu tak bisa diabaikan. Alhasil, di tengah perjalanan ia terpaksa berhenti di sebuah warnet untuk membuka dan membahas e-mail Riawan.

Bagi Riawan, pesan singkat lewat short message serivice (SMS) sudah menjadi kebutuhan utama dalam lalu-lintas kerja di kantornya. Ada sebuah cerita lucu tentang SMS dari Riawan. Suatu malam, sekitar jam 1, ia mengirim pesan ke salah satu staf dengan harapan akan membaca keesok harinya. Dalam pesan itu tertulis agar segera menyelesaikan sebuah pekerjaan yang ia berikan. Selepas meng-SMS, Riawan pun beranjak tidur. Tapi, setengah jam kemudian ia dibangunkan oleh dering telepon dari staf yang di SMS-nya. Malam itu, karyawan itu kelabakan menyelesaikan tenggat waktu yang diberikan oleh bosnya. Dalam teleponnya ia berkata, “Pak pekerjaan belum selesai. Sekarang saya sedang mengerjakan”. Setengah sadar Riawan menjawab, “Kenapa tidak diselesaikan besok saja sih”. “saya tidak menyangka malam itu ia masih terjaga”, katanya sambil tertawa. Namun, di balik sikap tegas itu ternyata dalam berhubungan dengan karyawannya ia sangat egaliter. Di ruang kerjanya ia biasa berdebat dan berdiskusi tentang segala macam.

Banyak hal unik dilakukan Riawan dan BMI salah satunya, ia menamakan perusahaannya sebagai state dan untuk karyawannya ia menamai kru (crew). Mengapa kru? Konsep kru, jelas Riawan lebih mengarah ke contribution function dept. Dalam kru, tidak semua mempunyai peran sama dalam membangun BMI. Seluruh kru direksi membawahi semua di bawah kru direksi “Jadi kita tidak mau ada kotak-kotak. Tidak ada sekat. Bahwa garis organisasi itu ada hanyalah untuk efektivitas kerja dan pencapaian tujuan-tujuan. Tapi bukan alat penghambat komunikasi,” terannya. Kata kru mengingatkannya dengan sebuah pesawat terbang.

Bila salah satu kru dalam pesat terbang tidak aktif, maka pesawat tidak akan jalan. “Kru pesawat kan tujuannya jelas sama, berangkatnya dari tempat yang sama. Dan yang pasti kalau yang satu bikin celaka ya akan celaka semua,”katanya.

Untuk menghilangkan sekat pula, ruang kerja Riawan - yang disebut sebagai kandang – ia bongkar. Sofa merah yang ada di ruang kerjanya menjadi satu dengan jajaran direksi lain. Antara satu ruangan dengan ruangan lain juga sengaja dipindahkan dengan kaca tembus pandang dan tak lama setelah ruangan Riawan dibongkar, beberapa pejabat di BMI menirukan aksinya, membuka “kandangnya”. “Padahal saya tidak suruh mereka keluar tuh” katanya.

Tentu saja kebiasaan tak lazim itu membuat geleng kepala kolega-kolega sesama bankir. Tengok saja ruangan direksi Bank Indonesia, atau bank-bank lain di Jakarta, besarnya bisa seluas kantor pusat BMI. Satu hal lagi karyawan BMI, menemui Riawan bukan hal yang sulit. Dari office boy hingga jajaran direksi tak berbelit bila ada perlu dengannya. Riawan tak pelit senyum kepada semua kru dalam negara BMI. Tak pelak, sistem yang dikembangkan Riawan itulah yang membuat BMI sebesar sekarang.


Setidaknya dalam lima tahun terakhir sejak ia menjabat dirut bank berlandaskan syariah Islam ini. “Itu bukan gara-gara kemampuan teknis, tetapi karena kultur. Sistem manajemen kita, kultur kita, merubah kinerja kita, katanya.
Kultur unik pelopor bank syariah di Indonesia ini ternyata menarik perhatian kalangan akademis untuk mempelajarinya. Bahkan seorang dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia menjadi corporate culture BMI sebagai sebuah mata pelajaran khusus bagi mahasiswanya.

Kini, walau telah sukses menahkodai BMI (pada 2000 BMI meraih untung Rp. 10.9 miliar), ia tak pernah mengklaim dirinya sebagai bankir. “Kebetulan saya bisa mengorganisir organisasi ini dan teman-teman lain di sini. Yang jago itu mereka” katanya merendah.

Riawan sadar, sebagai co pilot sebuah pesawat BMI, dirinya harus mempunyai inisiatif cerdas untuk memberdayakan anak buahnya. Pertanyaannya dari mana pemikiran cermerlang itu muncul ? “Dari Allah”, ujar Riawan, ringkas. Begitulah Riawan. Meskipun di puncak karir, ia tak pernah takabur.

Niai-nilai agamis selalu mewarnai setiap langkahnya. Nuansa religus itu juga kental terlihat dalam bukunya. The Celestial Management, yang terbit April lalu. Buku yang berisi tentang worship, wealth, dan warfare untuk mengurangi ekonomi ribawi ini sengaja tak mencantumkan nama pengarang dan cover buku dan tak memberikan kata penutup. Alasannya, kata Riawan semua ilmu datangnya dari Allah, “Kita cuma menginterprestasikan saja”, katanya.

Dan, semua prestasi gemilang itu tak lepas dari cermin tauladan Sutan Mohammad Amin dan Cut Maryam Amin, orangtuanya. Sutan Mohammad Amin adalah Gubernur pertama di Sumatera Utara, Aceh dan Riau pada tahun 1958. Nilai religus dan sifat pantang menyerah yang ditanamkan kepada lima bersaudara ini melekat kuat dalam jiwa anaknya. Namun, meski sangat disiplin dalam beragama, orangtua Riawan tak terjebak dalam fanatik dan kesukuan.

Riawan lahir di Tanjung Pinang, April 1958 dua tahun selang, pergolakan di daerah itu tak terelakkan. Akhirnya orangtuanya memutuskan hijrah ke Jakarta. Selain untuk alasan keamanan anak-anaknya kepindahan Amin ke Jakarta juga karena tugas dari Departemen Dalam Negeri yang mengharuskan berdinas di Ibu Kota Negara.

Di Jakarta, masa kecil Riawan berjalan tanpa gangguan. Di sekolah, termasuk anak pendiam, kata guru-guru yang mengajarnya, ia tergolong anak cerdas dan berpengetahuan luas. Maklum, sejak kelas satu Sekolah Dasar, ia telah banyak membaca beraneka ragam buku, di antaranya buku sejarah dunia, tokoh-tokoh dunia dan tak lupa komik. Air tak jatuh dari pancuran. Itulah yang terjadi dalam kehidupan Riawan.


Kegemarannya membaca tak lepas dari hobi membaca yang dimiliki ayahnya yang seorang pengarang buku yang sekaligus kolumnis. Selain telah menelorkan 12 buku, sang ayah juga rajin menulis kolom-kolom di beberapa media terbitan Jakarta kala itu. Kritik pedas dalam setiap tulisan Amin kala itu cukup membuat dahi para petinggi negeri ini berkerut. Karenanya tak mengherankan bila beberaa buku bikinan Amin terpaksa diterbitkan di Malaysia karena tak boleh beredar di Indonesia. Di antara buku yang dilarang beredar itu adalah Indonesia di Bawah Rezim Demokrasi Terpimpin.

Satu nasehat Amin yang selalu melekat dalam jiwa putra bungsunya, “Jangan membungkuk-bungkuk pada kekuasaan, melainkan pada kebenaran”. Dan nasehat itu pulalah yang dia tuliskan pada buku The Celestinal Management, sebuah buku tentang konsep perbankan Islami, yang terbit April lalu.

Soal kegemarannya menulis, tutur lelaki yang mengaku introvert ini, tak jauh dari tabiatnya semasa kecil. Semasa duduk di bangku SD, katanya ia paling suka bercakap-cakap ia suka menceritakan sesuatu kepada temannya. Dus, kepandainya bercakap itulah yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Tulisan itu ia perkaya dengan kegemarannya membaca.

Seiring dengan berjalannya waktu, Riawan mulai merasakan kata-kata dari ayah benar adanya. Dalam kaca mata Riawan, sosok Amin adalah sosok yang sangat ideal. “Beliau sangat lurus apa adanya, tidak banyak bicara, santun, keras, berani, dan rasanya uang-uang haram tidak ada pada hidupnya”, kata Riawan.

Sifatnya pemberani dari ayahnya juga mengalir dalam darah Riawan, semasa kuliah, ia aktif dalam pergerakan mahasiswa yang kala itu sedang menghangat. Tak jarang ia bermalam di kampus dan keesokan paginya masuk kuliah dengan mengenakan sarung dan sandal jepit. Riawan dan kawan-kawannya juga pernah mengelas pagar besi di pintu gerbang kampus salemba untuk menghalangi tentara “menjelajahi” kampusnya.

Karena dianggap terlalu “bandel”, pada tahun 1980, ia drop out dari Fakultas Teknik UI, namun dalam waktu yang bersamaan ia diterima sebagai mahasiswa FISIP di kampus yang sama, saat mendengar ia dikeluarkan dari fakultas, solidaritas teman-temannya menggelombang. Alhasil status DO yang ia sandang dibatalkan.

Kini, Riawan adalah bapak tiga orang putri, Gianina Amadira, Calsta sakina dan Ayasha Adiazzahra. Istrinya Mira Sri Ratna Damariati, ia menikah dipenghujung 1992, ia mengaku pernikahannya dengan sang istri adalah karena dijodohkan. Tiga bulan setelah berkenalan, ia segera memutuskan melawar Mira.

Di antara kesibukannya mengemudi kapal BMI, ia selalu meluangkan waktu untuk keluarga. Ia sempat nonton film di bioskop bersama istri dan anak-anaknya di rumah. “saya merasa waktu luang saya untuk keluarga banyak sekali” tuturnya, karena kata Riawan, ia tidak membedakan antara kehidupan rumah tangga, ibadah, dan kehidupan di kantor, malah bila suatu saat sedang jalan-jalan dengan anak-anak, tak jarang ia mampir ke kantor untuk mengambil beberapa tugas yang perlu ia selesaikan.
Dengan tradisi seperti itu, bukan anak-istrinya yang protes, melainkan teman-teman di kantor yang banyak berkomentar. Wajar saja bila protes itu dikeluarkan. Bagaimana tidak di antara waktu luangnya berlibur, ia tak mau kehilangan kontak dengan anak buahnya agar perkembangan terkini BMI tetap bisa dipantau, meski dari jarak jauh. Saat ia berlibur bersama keluara di Hongkong beberapa waktu lalu, misalnya SMS kepada stafnya tak pernah terhenti ia kirimkan.

Riawan yang mengaku banyak mempunyai paradoks dalam hidupnya ini termasuk orang yang menyukai keheningan. Menurutnya suasana bisa membuatnya tenang dan sehat. Dalam diamnya, ia betah berdzikir hingga 3 jam tanpa henti, dalam dzikri ia menemukan ide membikin produk syar-e produk terbaru BMI.

Dalam kesederhanaan Riawan, konsep menajemen perbankan syariah ia rintis telah menjadi titik cerah umat muslim negeri ini untuk berinvestasi secara mudah, aman dan bebas riba. Mungkin, kebersihan itu tak jauh dari prinsip hidupnya, selalu meninggalkan kesan dan pesan yang baik untuk sesama.


BIODATA
Nama : A. Riawan Amin, MSc
Tempat dan tanggal lahir : Tanjung Pinang, 27 April 1958
Istri : Dra. Mira Sri Ratna Damariati
Anak : 1. Gianina Amadira
2. Calista Sakina
3. Ayasha Adiazzahra
• PENDIDIKAN :
- Fakultas Teknik Arsitektur, Universitas Indonesia
- Bhacelor of Science of Architectual, Technology New York Ints USA, 1985
- Master of Science of Interdisplinary Study, University of Texas, USA 1978

• PRESTASI :
- Developing Master Plan, Bank Muamalat, 1997 – 2001
- Managing 500 Human Resources of Islamic Bank
- Head, ASTRA Office Development program
- Man Power Planning, Recruitment, Career Pathing
- Indutrial Higienist, South Texas sanitation, USA
- Healt & Safety, comprehensive consultatons
- Technical Research, EI Paso, TEXA, USA
- Plan Inspections, AEGIS, Texas, USA
- Regulatory Analysis, Compliance, Representation
- Hazardous Waster Assessment, Architectural Eng
- Instructor, 7 Habits on Highly Effective People
- Trainer, Speechpower, Public Speaking Workshop
- Hazrd Abatement, Architectural & Engineering
- Kaizen / Quality control Trainer, Bank Duta
- Targated Selections , Certified Interviewer
- Trainer, bank Marketing & Customer Service
- Coordinator , Teller & customer Service Training
- Teacher Auto Suggestion & Motivation Seminar
- Instructor, Industrial Hygiene Consultan, USA
- Trainer, Customer Communication, Bank Duta
- Trainer, Time Mangement, Bank Duta & Universal
- Instructor New Born Seminar, Camar Indonesia
- Vice President Bank Muamalat Indonesia
- Direktur Utama Bank Muamalat Indonesia

OTHER AUTHOR REVIEW
  • Jurus Memangkas BPIH ...More >>
  • A Riawan Amin: Bank Syariah Punya Pasar Sendiri ...More >>
  • Berhasil berkat Iman dan Keyakinan ...More >>
  • Jalan Tengah Haram-Halal Ala Pemberontak ...More >>
  • ATM Kami Lebih Banyak dari BCA ( Wawancara ) ...More >>
  • Bukan Alternatif, tapi Solusi ...More >>
  • Great Manager = The Manager who Dares to Break the Rules ...More >>
  • Jangan Alergi Konsep Syariah ...More >>
  • Mempertahankan Sikap Egaliter ...More >>
  • Bawahan harus diberi kepercayaan mengekspresikan diri ...More >>
  • Nahkoda Perbankan Syariah Indonesia ...More >>
  • BOOK REVIEW
  • Zero Base Dalam Interaksi Sosial ...More >>
  • Menuju Manajemen Keabadian ...More >>
  • Terobosan Manajemen Khas Muamalat ...More >>
  • Mengubah Krisis Menjadi Prestasi ...More >>


  • Intellectual Property of A. Riawan Amin