AUTHOR REVIEW
Bawahan harus diberi kepercayaan mengekspresikan diri
 Sumber: Amanah,No. 48, Th. XIII / 7 Nov-7 Des 1999,34--36 Penulis: Satya Nugraha
“Pemimpinitu harus punya dream dan mampu menyikapi gejala yang berkembang dengan ditopang oleh keyakinan iman yang kuat," demikian ujar A. Riawan Amin, menuturkan tentang rahasia sukses menjadi seorang pemimpin, saat ditemui Amanah di kantornya, Gedung Arthaloka lantai lima, Jalan Sudirman, Jakarta. Resep itulah agaknya yang membuat laki-laki bersahaja ini sekarang dipercaya menjadi Presiden Direktur PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk.
Laki-laki yang satu ini terbilang lembut dan ramah. Penampilannya kalem dan tutur katanya sangat runtut serta murah senyum. Itulah kesan pertama ketika berjumpa dengan ayah dua putri ini di sela-sela kesibukannya yang demikian padat.
Jabatan Tinggi. Tetap Sederhana. Riawan Amin lahir di Tanjung Pinang Riau, 27 April 1958 dari pasangan Mr Muh. Amin asal Tapanuli Selatan dan Cut Mariam asal Aceh. Ayahnya adalah mantan Gubernur pertama Riau. Dia sangat terkesan dengan gaya hidup kedua orang tuanya yang pernah dialaminya ketika ia masih kecil.
"Kedua orang tua saya selalu menekankan kesederhanaan kendati Ayah pernah menjabat posisi yang cukup tinggi di daerah. Setelah pensiun beliau selalu berangkat sendiri berjalan kaki dan tidak malu, dan ia tidak mau menyusahkan banyak orang," tutur Riawan, mengenang gaya hidup almarhum ayahnya. Kesederhanaan ayahnya itulah yang selalu menjadi cermin dan patokan hidup Riawan dalam memerankan hidupnya sehari-hari. Di samping itu nilai kejujuran dalam segala hal juga pernah diteladankan ayahnya terus dijadikan landasan utama dalam meniti karir dan segala aktivitas hidupnya.
"Saya bersyukur kepada Allah karena beruntung punya orang. tua yang selalu memberikan teladan yang baik. Dan saya sangat berterima kasih kepada mereka, karena tanpa kebaikan mereka saya tidak mungkin menjadi manusia yang bisa dipercaya orang," ungkap suami dari Mira Sri Ratna Damariati ini penuh haru.
"Kedua orang tua saya begitu konsisten memberi keteladanan yang baik. Contohnya, mereka tidak pernah meninggalkan shalat, sehingga anak-anaknya pun pada ikut shalat.lbu saya begitu care dengan sesama. Sampai keluarga yang jauh di pelosok pun yang jalannya becek dan berliku, ia datangi untuk bersilaturahmi apalagi kalau ada yang sakit atau perlu bantuan," tambah mantu Ir. HM. Sanusi, mantan Menteri Perindustrian, yang pemah dipenjara oleh rezim Orde Baru.
Dari pengalaman hidup semasa di bawah bimbingan orang tuanya, Riawan mengakui bahwa menjadi orang tua harus hati-hati. Sebab, tanpa kehati-hatian orang tua dalam mendidik dan membimbing anak-anaknya, jangan harap bisa mendapat anak yang baik nantinya. Nilai-nilai positif dari orang tuanya itulah yang kini diterapkan oleh Riawan dalam mendidik, anak-anaknya.
Punya Team Work
Kesuksesan seseorang dalam meraih karirnya tidak lepas dari peran-peran orang lain di sekitar tempat ia bekerja. Menurut Riawan Amin, untuk menghindari persaingan yang tidak sehat dan untuk meraih sukses bersama dalam mengembangkan karir serta memajukan organisasi perusahaan, maka perlu dibangun team work yang solid dan punya komitmen yang tinggi.
"Saya dan teman-teman yang kini duduk di jajaran direksi adalah satu tim kerja yang sudah lama kami bangun bersama. Kebetulan saya adalah senior di dalam tim, sehingga saya yang dipercaya oleh Komisaris untuk menempati posisi Presiden Direktur," jelas Riawan dengan senyum.
"Dengan adanya tim kerja, insya Allah kita bisa membangun bersama kinerja perusahaan milik umat ini dengan penuh tanggung jawab dan semoga bisa berhasil untuk kepentingan umat," kata peraih Master of Science (MSc) dari University of Texas, AS, 1987.
Kepercayaan jajaran komisaris kepada karyawan Bank Muamalat yang berprestasi untuk menempati posisi puncak saat ini merupakan wujud kaderisasi dalam pengembangan karir. "Saya kira para komisaris memberikan kepercayaan kepada tim kami karena sebagai orang dalam, kami dianggap mampu dan mengerti kinerja perusahaan," tambah pria berkulit putih ini cukup bangga. Berkat kerja bareng yang baik dengan timnya itulah kini jajaran direksi Bank Muamalat dipenuhi tokoh-tokoh muda.
Kultur yang Egaliter
Setelah diangkat memimpin Bank Muamalat, satu hal menarik yang patut disimak adalah kultur yang dibangun oleh Riawan dalam menjalankan roda perusahaan. Dia melakukan terobosan baru dengan menciptakan budaya yang egaliter.
Bagi Riawan budaya egaliter yang dimaksud adalah satu iklim di mana seluruh karyawan diberikan kepercayaan diri secara penuh atas kemampuannya. "Karyawan harus diberikan kepercayaan bahwa ia dihargai, boleh bicara dan bisa mengekspresikan dirinya tanpa harus dihukum, dihina atau dibodoh-bodohi," terang ayah dari Gianina Amadira dan Calista Sakina ini.
Riawan memberi alasan bahwa budaya yang dibangunnya itu sebagai jawaban atas tuntutan dunia yang begitu dinamis dan terus berubah. Dan ia memberi gambaran bahwa negara-negara otoriter di dunia terbukti telah mengalami kehancuran. “Jadi, sikap-sikap otoriter dan tidak pernah memberikan koridor kepada karyawan, jelas sangat merugikan akan keberlangsungan perusahaan itu sendiri dan tidak relevan lagi diterapkan dalam tuntutan zaman yang terus berkembang. Jangan teriakkan pemberdayaan masyarakat egaliter kalau masih ingin jadi feodal," tegas Riawan.
Secara kritis Riawan menilai bahwa banyak organisasi perusahaan secara urnum masih menyimpan jenjang dan hierarki serta birokrasi yang jomplang antara tingkat manajemen teratas dengan tingkat terendah. Kekuasaan untuk bertindak dan mengambil keputusan terpusat di atas, informasi bisnis sernuanya confidential, pengetahuan diberikan pada yang itu-itu saja dan rewards manajemennya tidak jelas dan dirasa tidak adil. "Maka power, information, knowledge dan rewards, yang saya singkat PIKR harus terdistribusikan secara lebih merata. Sehingga gap antara top management dan karyawan tidak jomplang, hierarki organisasi pun harus lebih datar sehingga dalam organisasi ideal diharapkan karyawan berani melatih kemampuan yang dimilikinya untuk action dan membuat keputusan sesuai ruang lingkup pekerjaannya," terang mantan Training & Development Officer Bank Duta ini.
Di sisi lain, kata Riawan, informasi harus mengalir transparan dan horizontal tanpa harus dihambat oleh adanya sekat-sekat vertikal birokratis yang tidak perlu. Setiap saat anggota organisasi dapat melatih kemampuannya secara optimal tanpa menunggu-nunggu dari atasan. Di samping itu pentingnya pengetahuan secara menyeluruh tentang segala aspek bisnis, dasar pengetahuan neraca harus dikuasai sehingga setiap karyawan mendapatkan gambaran tentang jalannya perusahaan sekaligus mengerti kaitan antara performance unit/dirinya dengan performance organisasi secara keseluruhan yang pada gilirannya memberi motivasi serta meningkatkan rasa kepemilikan terhadap organisasi/ perusahaan.
Membuang Mitos Lama
"Kita jangan termakan mitos lama. Manajemen pada segala level harus berani melihat perkembangan bisnis dengan kaca mata jemih, yang bebas dari dominasi paradigma dan pengalaman masa lalu. Setiap hari adalah hari yang baru, tantangan bisnis yang ada kemarin mungkin tak sama bahkan hampir pasti berbeda dengan hari ini," tegas Riawan, yang menyebutnya dengan istilah Zero Based. Menurut Riawan penyakit D3 (dari dulu-dulunya) harus dilenyapkan. Penyakit ini biasa menjangkiti para profesional yang merasa dirinya sangat berpengalaman, sehingga menilai segala sesuatu dari kacamata pengalaman masa lalu yang belum tentu relevan dengan kondisi saat ini yang selalu berubah secara drastis. "Tak kalah pentingnya, dalam setiap organisasi diperlukan konsistensi antara elemen yang ada sehingga tidak berjalan sendiri-sendiri. Dan alangkah sayangnya jika pada era globalisasi masih banyak manajer yang bicara detil dan memaksakan cara tertentu untuk mencapai sesuatu, padahal karyawan rata-rata berpendidikan sarjana (SI). Seharusnya manajer yang baik adalah mendorong intelektualitas untuk kreatif berinovasi mencapai result yang diinginkan," kritik mantan Manager Training & Development Bank Universal ini.
Dengan kata lain menurut Riawan, seorang manajer yang baik selalu menggunakan paradigma result oriented dan selalu memberi reward yang pasti. Keberhasilan bawahan/karyawan berarti keberhasilan akan dirinya. Dan itu adalah manajer yang berhasil.
MIKR
Konsep lain yang dipakai Riawan diringkaskannya dalam suatu akronim MIKR. Menurut Riawan karyawan BMI harus militan, intelek, kompetitif dan regeneratif. ltulah kepanjangan MIKR, yang berorientasi misi pemberdayaan umat, menghargai keberadaannya di BMI dalam rangka ibadah sehingga ikhlas, ulet dan tidak mudah putus asa karena reward utamanya adalah akhirat. "Orang militan biasanya juga mandiri dan bisa berdikari, mandiri dalam melatih kemampuannya yang dipunyai, mandiri dan bersemangat mencari informasi dan pengetahuan yang dibutuhkan. Mereka harus intelek mencakup semua aspek pengetahuan, skills dan attitude yang dibutuhkan untuk berprestasi. Intelektualitas yang didasari militansi menciptakan tenaga kerja yang mampu dan mau menyumbangkan sisi terbaiknya,"urainya.
Lanjut Riawan lagi, karyawan yang militan dan intelek adalah karyawan yang ber-fastabiqul khairat, akan menjadi karyawan yang kompetitif di bursa tenaga kerja. "Tenaga kerja kompetitif otomatis menjadikan organisasi kompetitif. Dan ini sejalan dengan pandangan hidup saya seperti tertuang dalam Al Quran surah An Nasyrah," papar laki- laki yang pernah bekerja di Technical Research, El Paso, Texas, AS ini.
Hal terakhir yang perlu diperhatikan menurut Riawan, sifat kompetitif harus didapat melalui sustainable competitiveness yang menjadikan organisasi bertahan lama. Dan ini terjadi bila organisasinya regeneratif dari sisi militansi, intelektualitas dan kompetitif itu tadi. |
 |
OTHER AUTHOR REVIEW
Jurus Memangkas BPIH ...More >> A Riawan Amin: Bank Syariah Punya Pasar Sendiri ...More >> Berhasil berkat Iman dan Keyakinan ...More >> Jalan Tengah Haram-Halal Ala Pemberontak ...More >> ATM Kami Lebih Banyak dari BCA ( Wawancara ) ...More >> Bukan Alternatif, tapi Solusi ...More >> Great Manager = The Manager who Dares to Break the Rules ...More >> Jangan Alergi Konsep Syariah ...More >> Mempertahankan Sikap Egaliter ...More >> Bawahan harus diberi kepercayaan mengekspresikan diri ...More >> Nahkoda Perbankan Syariah Indonesia ...More >> |
|
 |
|