AUTHOR REVIEW
Mempertahankan Sikap Egaliter
Sumber: Panji, No. 27, Th. IV / 25 , Okt 2000, 39--42
Penulis: lut

Sepintas tampak pendiam.Tapi, sekali bicara ia sulit distop. Tidak seperti kebanyakan orang Medan yang meledak-ledak, suara Ahmad Riawan Amin cenderung lembut. Di tengah kesibukannya sebagai orang nomor satu di Bank Mumalat Indonesia (BMI), Amin tetap rajin mengkampanyekan perbankan syariah yang, menurutnya, sudah teruji keandalannya pada masa-masa krisis. "Bila bank-bank konvensional rontok, BMI tetap eksis, dan tidak pernah merepotkan pemerintah," katanya kepada Akmal Stanzah dari Panji. Berikut sebagian sisi kehidupannya.

Sisi Kehidupan

Bila dilihat dari latar belakang akademis yang saya miliki, saya bukanlah berlatar belakang bankir tapi saya adalah orang yang lama menekuni bidang sumber daya manusia termasuk pendidikan formal malah tentang arsitek. Rupanya sumber daya manusia yang berkaitan dengan pelatihan dan rekrutmen itulah yang menjadi modal saya berkiprah di Bank Muamalat. Dan itu dimulai sejak tahun 1993, satu tahun setelah bank ini beroperasi. Uniknya bank syariah dalam banyak aspek sangat jauh berbeda dengan bank konvensional biasa termasuk sumber daya manusianya. Sebagai bank yang ingin kaffah berarti karyawan dan karyawatinya tidak sama dengan bank lain. Sebagai dirut BMI yang ketiga, saya akui masih hijau dalam kepemimpinan, belum banyak pengalaman, sebagai bankir saya masih baru, bahkan latar belakang pendidikan saya adalah tentang sumber daya manusia. Narnun saya sendiri juga tidak tahu kenapa sampai terdampar menjadi dirut BMI.

Citra yang berkembang selama ini bankir itu tidak ubahnya bak sebuah laporan keuangan semata. Cenderung kepada angka-angka. Sedangkan ahli SDM lebih condong melihat kepada manusianya dan sistem organisasinya. Tapi tentu saya yakin bahwa seorang ahli keuangan bisa menjadi ahli SDM yang baik, dan ahli SDM lebih mudah masuk untuk menjadi ahli keuangan.

Dalam posisi saya sebagai bankir dan pimpinan sebuah bank, saya sangat banyak dibantu pakar yang mengerti masalah teknis perbankan. Pada porsi saya sebagai dirut tidak terlalu banyak melakukan analisa kredit. Saya hanya melihat sisi makro dan aturan-aturan bank itu saja terutama mengarahkan agar bank itu. Oleh karena itulah saya sangat menekankan tentang kekompakan tim.

Saya lahir kebetulan dari orang tua yang berstatus pejabat tinggi negara. Lalu saya mendapat kesempatan kuliah di Universitas Indonesia dan saya berhasil mendapat beasiswa dari pemerintah. ltu kan sangat sedikit dirasakan oleh orang. Begitu juga dalam keluarga, kehidupan ekonomi kami cukup baik, jadi saya benar-benar mendaptkan anugerah Tuhan. Satu yang saya kurang sependapat kalau ada orang yang mengatakan dirinya berprestasi. Tidak betul, karena semua saling berkait, tidak bisa datang dengan sendirinya, banyak faktor sebagai penentu.

Saya adalah anak terkecil dari lima bersaudara. Kakak-kakak saya cukup berhasil dalam hidupnya. Sementara mertua saya pernah menjadi menteri perindustrian. Darinya saya memperoleh banyak informasi bermanfaat. ltu semua menjadi bekal buat saya dalam meniti karier dalam dunia perbankan. Saya bisa mengenal banyak orang dan juga mendapat bimbingan.

Keluarga Egalitarian.

Delapan tahun lalu saya menikah dengan Ratna Damariati, anak dari lawan politik Soeharto, yaitu Ir. Anwar Sanusi. Saat saya menikah mertua saya itu masih menghuni penjara Cipinang. Satu tahun lamanya saya membesuk mertua di penjara. Saat pernikahan berlangsung, saya masih ingat ucapan kerabat saya, putra mantan gubemur DKI. "Tamatlah karir, Lu. Jangan harap akan beres!" Sambil cengar-cengir, lalu saya jawab: "Masa sih kita mempertaruhkan kehidupan keluarga kita untuk sebuah rezim Soeharto yang mungkin hanya bertahan lima atau enam tahun lagi." Untunglah, mertua saya dibebaskan. Ketika rezim Soeharto runtuh dan Habibie naik ke kursi presiden, mertua saya malah dianugerahi bintang mahaputra dari pemerintah. Syukurlah!.

Kenikmatan tak hanya berhenti di situ. Selepas melangsungkan pernikahan, kondisi politik di dalam negeri terus membaik. Jalan lempang meniti karier buat saya tampaknya dimudahkan oleh Allah swt. Alhamdulillah. Sampai saat ini temyata saya tidak mendapatkan penderitaan akibat politik rezim Soeharto.

Meskipun pada awal saya masuk ke BMI, saya tahu bahwa ada seorang komisaris BMI yang menjadi lawan politik mertua saya. Ketika saya akan direkrut BMI, posisi saya yang menjadi menantu lawan politik Soeharto sempat menjadi pembicaraan. Dalam hal ini, ternyata BMI memandangnya cukup objektif. Latar belakang saya yang menantu seorang lawan politik komisaris itu tidak menjadi perhitungan mereka. Sampai delapan tahun lamanya saya di BMI ternyata saya tidak pemah digugat oleh rezim Soeharto. Meski Soeharto dan kroni-kroninya itu memiliki saham di BMI.

Selama delapan tahun berkarier di BMI, ada pengalaman yang cukup mengesankan buat saya. Iklim reformasi di tubuh perbankan syariah ini muncul jauh-jauh hari sebelum reformasi meletus. Saya melihat orang-orang di BMI cenderung egaliter. Ini mungkin terbawa dari konsep kepemimpinannya yang terbuka. Dan, yang lebih penting dari itu, setiap orang boleh bebas berbicara.

Bagi saya yang asli Batak, sikap egalitarian itu tak terlalu merisaukan. Soalnya, keluarga kami berangkat dari sikap egaliter dan nasionalis. Jadi, saya biasa melihat perbedaan. Sejak sebelum masuk ke BMI pola hidup saya memang egaliter. Jadi ketika BMI ditinggal dirut pertama sampai sekarang tidak ada masalah. Ketika saya jadi dirut, saya pertahankan gaya egalitarian itu. Cuma yang sangat saya wanti-wanti adalah egaliter itu jangan sampai menjadi anarki. Seperti orang Amerika misalnya. Tapi mereka itu sebatas bicara. Sedangkan orang Indonesia, kadang-kadang tidak boleh bicara tapi tangan sering main.

Obsesi.
Ada satu hal yang menjadi keinginan saya. Sampai saat ini saya selalu berharap menjadikan BMI sebagai sebuah lembaga keuangan syariah kelas dunia. Tentu saja harapan itu cukup sulit jika tidak ada kekompakan dan kebersamaan di antara pimpinan dan seluruh karyawan BMI. Namun sebelum itu tercapai, saya ingin menjadikan BMI ini dominan di kalangan pasar emosional dan dikagumi di pasar rasional. Meski di Tanah Air umat Islam dominan tapi untuk mewujudkan keinginan saya dan teman-teman tidak mudah.

Untuk mengarah emosional market kami memulai dari bawah. BMI terlibat dengan Koperasi Pondok Pesantren dan melakukan aliansi dengan BPR Syariah yang ada dengan memasukkan modal dan bantuan teknis. Di samping itu BMI juga melakukan program silaturahmi keluarga muamalah dengan melibatkan para ulama setempat.

Apa yang kami lakukan di BMI ternyata berdampak positif. Kami menyadari di samping memupuk emosional market, ini juga menjadi misi BMI sejak awal. Tapi, sayangnya, saya masih menemui adanya sejumlah ulama yang belum sepakat soal bunga bank. Beberapa di antara mereka menyebut bunga bank itu sebagai riba. Ini yang membuat saya kecewa. Saya respek terhadap mereka yang menyebut begitu. Meski begitu, toh saya pun boleh berharap. Janganlah para ulama itu lantas "memukul" kita.

Sebagai bankir, saya sendiri sebenarnya tak berani menyebut bunga bank konvensional itu riba. Tapi minimal saya berani menyebut bahwa di bank syariah itu, insya Allah bersih. Sebab bank syariah jelas tidak riba.

Membuka Mata.

Hidup di jaman susah seperti sekarang, para intelektual hendaknya membuka mata tentang ekonomi kita sekarang ini. Terlepas dari masalah agama, ekonomi kita sudah dipermasalahkan orang. Seorang ahli ekonomi yang mendapat nobel, Mouris Alain dan Prancis, adalah pemerotes keras tentang sistem ekonomi sekarang. Dalam pandangannya, ekonomi sekarang telah menciptakan sebuah meja judi besar, di mana uang berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain tanpa memberikan satu nilai tambah. Ekspansinya karena bunga uang. Apa yang menjadi problem Mouris, faktanya bank syariah dan sistem ekonomi nya banyak memberi jawaban terhadap problema-problema yang ada sekarang ini.

Ini sering saya kampanyekan berkali-kali saya menyatakan bank syariah mengedepankan dan menjalankan etika yang ada di dalam kitab perjanjian lama maupun baru. Dalam Lucas 34 dan Kitab Ulangan tentang bunga uang, bahkan Socrates dan Plato mengatakan bahwa bunga adalah sumber keresahan dalam masyarakat. Maklum, ia menjadi alat eksploitasi dan golongan kuat kepada golongan lemah. Socrates menyebutkan pula, uang bukanlah komoditas dan uang tidak bisa membiak dengan sendirinya kecuali bila digabungkan dengan bidang usaha. Jadi lihatlah secara rasional maupun religius, sekarang ini kita membutuhkan sistem ekonomi alternatif. Bila kita tidak mau membesarkan sistem syariah, maka umat Islam akan menjadi pecundang kembali pada tahun 2020.

Tidak untuk Muslim Saja. Yang saya maksud dengan emosional market itu tidak hanya dalam tatanan religius saja. Emosional market iti didefinisikan sebagai orang-orang yang berhati nurani dan beretika kuat. Jadi tidak hanya untuk orang Islam saja. Siapa pun yang yakin bila ia berbisnis dengan BMI tidak akan membawa mudarat dan maksiat. Maksud saya, secara akidah Islam tidak bisa disamakan dengan agama lain. Tapi secara sosial muamalah saya tidak melihat aturan yang tidak baik dalam Islam tapi dianggap baik oleh agama lain, itu tidak ada. islam menuntut kejujuran, agama lain juga. Bila bank syariah menekankan keadilan, Yahudi pun menegakkan keadilan. Karenanya tidak betul bila BMI itu sektarian, tapi terbuka bagi siapa saja.

Sisi Kehidupan

Bedanya BMI dengan bank biasa itu berangkatnya dengan ideologi sekuler. Kehidupan pribadi tidak perlu dicampuradukkan dengan di kantor. Sedangkan BMI tidak demikian karena mencerminkan imej secara keseluruhan. Jadi bila karyawatinya mengenakan jilbab sebagai seragam di kantor tapi di rumah tidak. Namun demikian tidak pas rasanya bila malam mereka berada di pub atau tempat hiburan malam, misalnya. ltu bukan satu peraturan yang tertulis tapi semata-mata karena adanya kesadaran moral dari karyawati BMI.

Nah, sejak awal mereka akan memulai bekerja di BMI berbagai peraturan sudah menjadi komitmen bersama. Misalnya tentang pengetahuan syariah. Yang satu ini kan di bank biasa dipastikan tidak akan mereka dapat, selama itu mereka juga dites kemahirannya membaca Al Qur'an. Jadi semua prosedur itu sudah menanamkan pesan. Dengan demikian mereka yang ingin masuk sudah mengontrol dirinya sendiri, apakah sudah pantas masuk ke BMI. Kalaupun ada yang merepotkan adalah mereka yang dititipkan oleh orang-orang tertentu. Secara teknis perbankan, mungkin tidak repot karena secara operasionalnya sama saja. Kalaupun berbeda prinsip yang melandasinya. Nah, hal yang krusial di sini adalah bagaimana menjelaskan kepada masyarakat tentang perbedaan itu.

Misalnya yang kami takutkan adalah anggapan dari masyarakat bahwa BMI ini khusus diperuntukkan bagi umat Islam. Pandangan seperti itu saya sadari memang masih kental sekali. Untuk itulah saya lebih condong kembali saja kepada sunah rasul yang melakukan perdagangan dengan siapa saja. Secara filosofis, itulah yang secara resmi yang dianut BMI. Kami berbisnis dengan siapa saja yang mau mengikuti etika BMI, bukan agamanya. Dalam hal ini yang namanya etika muamalah itu maknanya universal. Artinya apa yang baik bagi kami akan baik bagi non muslim.

Pada kenyataannya nasabah BMI itu memang sangat dominan muslim, sedangkan nonmuslim tidak banyak yang datang ke BMI. Alasan kekhawatiran menempati peringkat utama. Di samping itu pula karyawan BMI sendiri mungkin berpandangan bahwa bank ini hanya khusus untuk bagi orang muslim saja. Oleh karena itulah, saya tidak henti-hentinya menjelaskan bahwa BMI tidak hanya membatasi pada kalangan muslim saja. Kecuali kepada orang-orang yang berkarakter buruk, baik Kristen maupun Islam. Ya, dengan upaya yang tiada henti, bagusnya prinsip itu sudah dapat dimengerti karyawan
Saya menyadari selama ini BMI masih belum sempurna, dibanding bank umum lainnya. Keberadaan kami baru sekitar 8 tahun. Tentu banyak yang harus disempumakan.

Bedanya dengan bank umum lain, BMI dalam memberikan kredit harus berhati-hati, kami sangat konservatif. Termasuk objek pembiayaannya, tidak semua sektor kami ambil beda dengan bank lain, bila itu untung lalu diambil. Bagi kami usaha yang menyerempet moral tidak akan kami lakukan. Misalnya saja bisnis perhotelan, meski hanya sebagai tempat nginap dan tidur, tetapi malah dipakai untuk tidak "tidur".

Begitu juga dunia hiburan yang bisa menjadi sarana perbuatan maksiat, termasuk yang jelas-jelas bertentangan dengan agama. Seperti, pabrik minuman keras, pemotongan hewan "tertentu" bahkan yang berkaitan dengan industri rokok kami tidak mau terlibat. Jadi banyak batasan-batasannya. Saya yakin, meski objek tersebut sangat menguntungkan tapi tidak kami sambar, kami yakin masih banyak lahan-lahan lain. Saya melihat keuntungan perbankan dan ekonomi syariah akan terasa manfaatnya bila ditarik dalam skup makro. Artinya semakin total sistem ini diterapkan dalam suatu bangsa makin terasa keunggulannya. Tetapi kalau masih dalam level mikro pada usaha-usaha tertentu apalagi pada BMI yang punya pangsa pasar kecil, hasilnya tidak begitu kelihatan.

Dalam ketidakpastian ini, saya pikir harus kembali kepada ajaran Islam. Kalau ragu (syubhat) ya harus ditinggalkan. Jadi tidak mengherankan bila bank-bank umum cepat menjadi besar karena bermain pada valas dan pasar uang. Tetapi begitu terpuluk, sangat buruk akibatnya, itu terbukti ketika terjadi krismon yang lalu, bank besar malah ambruk. Karena BMI tidak melakukan itu, kami aman meski krismon melanda bangsa kita. Sayangnya yang buruk malah dibantu oleh pemerintah, sementara yang baik tidak dipedulikan.

Nama : Ahmad RiawanAmin, Msc
Lahir : Medan, 27April 1958
Orang Tua : H.Mr. Kroeng Raba Nasution Gelar Sutan Moh. Amin (gubemur pertama Provinsi Sumatera Utara, Aceh dan Riau)
Pendidikan : Msc, University of Texas (1987); Bsc, New York Ints of Tech(1985), FISIP UI (1980), FTUI (1977).
Pekerjaan : Direktur Utama Bank Muamalat Indonesia (1999-sekarang)
Karler : Environmental Engineer AEGIS Int'l, El Paso,Texas (1987); Officer, Training & Development Bank Duta (1989); Manajer Pelatihan dan Pengembangan Bank Universal (1992). Tahun 1994 bergabung dengan Bank Muamalat sebagai Vice President Organization dan Human Resources.

OTHER AUTHOR REVIEW
  • Jurus Memangkas BPIH ...More >>
  • A Riawan Amin: Bank Syariah Punya Pasar Sendiri ...More >>
  • Berhasil berkat Iman dan Keyakinan ...More >>
  • Jalan Tengah Haram-Halal Ala Pemberontak ...More >>
  • ATM Kami Lebih Banyak dari BCA ( Wawancara ) ...More >>
  • Bukan Alternatif, tapi Solusi ...More >>
  • Great Manager = The Manager who Dares to Break the Rules ...More >>
  • Jangan Alergi Konsep Syariah ...More >>
  • Mempertahankan Sikap Egaliter ...More >>
  • Bawahan harus diberi kepercayaan mengekspresikan diri ...More >>
  • Nahkoda Perbankan Syariah Indonesia ...More >>
  • BOOK REVIEW
  • Zero Base Dalam Interaksi Sosial ...More >>
  • Menuju Manajemen Keabadian ...More >>
  • Terobosan Manajemen Khas Muamalat ...More >>
  • Mengubah Krisis Menjadi Prestasi ...More >>


  • Intellectual Property of A. Riawan Amin