AUTHOR REVIEW
ATM Kami Lebih Banyak dari BCA ( Wawancara )
Sumber: Modal,No. 7 / I-Mei 2003,32--36

Ketika amanah menjabat Direktur Bank Muamalat pada 1999, Achmad Riawan Amin langsung bergerak cepat. Pembenahan internal menjadi salah satu titik toloknya menggerakkan roda bank syariah pertama di Indonesia ini. Wawan, begitu ia disapa, menyodorkan konsep yang dikenal dengan PIKR, ZIKR, dan MIKR.

PIKR tak lain adalah power, information, knowledge, reward yang didistribusikan secara merata ke seluruh jajaran manajemen. Konsep ini untuk mengikis jurang pemisah antara top manajemen dan karyawan biasa. Hirarki organisasi dibuat lebih datar guna membentuk organisasi ideal.

Tujuannya agar karyawan mampu meng-exercise kekuatannya dalam membuat keputusan sesuai ruang lingkup pekerjaannya. Karyawan akan diberi reward berdasarkan efektivitas hasil exercise tadi. "Dengan begitu karyawan akan terdorong melakukan yang terbaik sesuai kemampuan,” kata pemilik gelar Master of science bidang interdisciplinary study dari University of Texas, Amerika, 1987, ini.

Untuk menjalan menjalankan konsep PIKR harus berdasarkan filosofi ZIKR, yakni zero based, iman, konsisten result oriented. Pada level zero based manajemen harus berani melihat perkembangan bisnis dengan kacamata jernih dan bebas dari paradigma masa lalu. “Tantangan bisnis berubah setiap hari.” Kata putra Mr. Kroeng Raba Nasution Gelar Sutan Moh. Amin dan Cut Maryam Amin binti T. Nya’ Banta ini. Keputusan yang sudah dibuat harus diyakini dan dijalankan secara konsisten. Konsistensi antara seluruh critical element organisasi adalah penting agar organisasi tidak jalan sendiri. Karyawan harus didorong untuk melahirkan karya terbaik. "Karena itu sistem reward and punishment amat penting," ujar ayah tiga orang anak ini.

Dengan PIKR yang sudah terealisasi berdasarkan filosofi ZIKR tadi akan terecpta komunikasi MIKR, yakni militan, intelek, kompetitif, regeneratif. "Bicara Bank Muamalat harus dipastikan karyawannya militan," ungkap mantan Manajer Training & Devolopment PT Astra Internasional ini.

Dengan konsep besar tadi, perlahan suasana kerja di Bank Muamalat menunjukkan perubahan. Jurang pemisah antara top manajemen dan karyawan tak tampak mencolok mata. Ruang kerja Wawan sebagai direktur utama cukup akrab bagi karyawan Bank Muamalat. Serendah apapun level karyawan tersebut. “Saya tidak ingin jabatan menghalangi komunikasi antar karyawan,” tandas suami Mira Sri Ratna Damariati ini. Jangan heran jika suasana egaliter tercipta di lingkungan kerjanya.

Sebagai seorang direktur Wawan termasuk sosok yang "unik". "Saya jarang pakai dasi kecuali memang diperlukan,” tuturnya. Saat menerima kunjungan Modal, Wawan hanya mengenakan baju taqwa biru muda. Busana seperti itu kerap ia gunakan dalam kesehariannya.

Dalam kesederhaaaan itu pula Wawan menghadapi tantangan besar. Memasuki usia 11 tahun. Bank Muamalat tak lagi berdiri sendiri sebagai bank syariah di Indonesia. Beberapa bank melakuan konversi menjadi bank syariah. Sebagian membuka divisi syariah. Sebagai sosok yang memiliki perhatian pada perkembangan perbankan syariah, kondisi itu tentu menggembirakan.

Pada sisi lain Wawan ditantang mengarungi ''persaingan" di rimba perbankan syariah. Apa kiat Bank Muamalat memasuki dekade kedua usianya? Simak penuturan Ahmad Riawan Amin pada wartawan Modal Muhammad Rofiq di kantornya di Gedung Arthaloka Jakarta, Senin pekan silam.

Seberapa jauh pencapaian bank muamalat setelah berusia 11 tahun?

Saya sendiri masuk ke sini tiga tahun dan tidak tahu bagaimana cita-cita yang hendak dibangun sejak pertama berdiri. Tapi, Bank Muamalat berdiri untuk mengangkat harkat hidup pengusaha kecil dan menengah Muslim. Soal berhasil tidaknya Anda bida lihat sendiri. Mungkin sudah sunnatullah kalau selalu membuat orang akan maju. Suasana lebih baik daripada Bank Muamalat menjadi pemain tunggal di bank syariah.

Kalau dilihat dari perkembangan jangka waktu yang sama, mana yang lebih baik ada pesaing atau Bank Muamalat sebagai pemain tunggal?

Begini, pada saat kami mulai take over tahun 1999, dari titik layanan kami cuma punya 30 unit. Sekarang sudah 70 unit. Dan profit terus terang meningkat, meski sulit mengatakan karena terpotong oleh krisis moneter. Jadi agak sulit untuk membandingkan satu persatu. Kalau mau dikatakan bank syariah itu resisten terhadap krisis ekonomi memang betul Bank syariah waktu itu hanya Bank Muamalat. Satu-satunya bank syariah yang merasakan krisis moneter hanya Bank Muamalat.

Seberapa besar dampak krisis moneter terhadap Bank Muamalat di masa berikutnya?

Saya rasa cukup besar dan pelajarannya sangat bagus. Ketika kami melakukan take over, prioritas utama adalah menyehatkan bank dan konsolidasi. Krisis moneter melanda semuanya termasuk ekonomi syariah. Hanya saja ekonomi syariah tidak separah yang lain. Kalaupun ada masalah bukan persoalan penipuan atau penggelembungan aset, tapi masalah di sektor riilnya.

Pendapatan 1999 cukup signifikan. Apa yang membuat pendapatan Bank Muamalat signifikan?

Banyak faktor internal maupun eksternal. Banyak hikmah krisis moneter. Kalaupun syariah satu-satunya waktu itu terpuruk, terpuruknya tidak terlalu serius. Sebaliknya, terpuruknya ekonomi sistem ekonomi karena sistem ekonomi yang tidak halal. Secara internal kami berpendapat bahwa manusia itu tergantung sistemnya.
Saya rasa di Bank Muamalat juga pernah terjadi orang di bawah manejemen yang berbeda pula. Ketika Bank Muamalat mengalami pergantian manajemen banyak yang hijrah ke berbagai tempat. Mungkin dengan hijrah itu menjadi lebih baik bagi mereka yang ditinggalkan juga lebih baik. Bagi kami tidak masalah, alumni ada di mana-mana.

Beban apa yang paling terasa ketika Bank Muamalat berhasil melewati masa krisis?

Kalau waktu itu ditanya mengapa Bank Muamalat dapat bertahan hidup, saya menjawab nomor satu adalah adanya manusia yang bersedia mengalami penderitaan demi sebuah keyakinan. Bahwa ada orang yang segitu kukuh menhindari yang 60% di pasar untuk mendapatkan 6% di Bank Muamalat yang halal. Orang-orang seperti inilah yang membuat bank muamalat bertahan.
Yang paling berat waktu itu tentu dari sisi aset. Kalau kita melihat yang menabung jelas karena ideologi. Tapi, kalau yang meminjam saya tidak tahu. Mungkin sebagian mereka tidak peduli halal atau haram, yang penting dapat pinjaman. Seandainya debitur itu berprinsip syariah, allhamdulillah di sini tidak pernah terjadi penggelembungan nilai. Jadi syariah membuat semua pihak tahu diri dan malu hati. Tapi, problem kami tetap di pembiayaan macet karena sektor riilnya kurang berjalan.

Berapa banyak kredit macet waktu itu?

Waktu kami memulai sekitar 55% sampai 60% NPL-nya, Setelah direstrukturisasi perlahan sekarang di bawah 5%. Tapi, tentu saja faktor keberanian di situ karena pada saat krisis kami sempat landing. Sampai suatu titik kami lihat suasana kritis. Tapi, tidak semua brengsek.

Bagaimana tantangan ke depan setelah lahirnya bank syariah yang lain?

Kalau melihat angka, maka pesaing tadi tidak membawa hal apa pun bagi Bank Muamalat selain manfaat. Kami bahagia dengan adanya pesaing. Kemudian berdasarkan analisis, angka yang kami ajukan begini. Kalau saja 10% umat Islam dimasukan dalam emotional market, maka jumlahnya mencapai 18 juta orang. Kalau l8 juta orang itu dibagi menjadi existing nasabah bank syariah yang ada sekarang, maka rasio yang kita temukan sekitar 36 kali. Padahal yang ada sekarang masih sekitar setengah juta nasabah.

Berapa besar emotional market yang Anda bisa garap?

Untuk saat ini kami tidak peduli seberapa besarnya. Kami, ingin mengambil yang kecil sekitar 10%, yakni yang emotional market saja. Bagi kami itu lebih dari cukup. Problem yang mengemuka kemudian adalah bukan karena persaingan pasar, tapi ketidakmampuan menjamah pasar.

Mengapa Bank Muamalat belum bisa menjamah pasar?

Mungkin dulu kita tidak pernah berpikir secara matang strategi Bank Muamalat mau dibawa kemana. Sebagai contoh kalau kami sudah mengasumsikan pasar ini minoritas, apakah minoritas yang kedua ini berkumpul populasinya. Rasanya menyebar di berbagai wilayah. Kalau populasinya seperti ini buat apa Bank Muamalat buka lima cabang di Jakarta. Kalau Bank Muamalat tidak berkembang selama bertahun-tahun, salah sendiri membuat strategi begitu. Sudah tahu pasar menyebar justru membuat strategi konsentrasi begitu.

Apa yang dilakukan Bank Muamalat setelah melihat pasar yang menyebar tadi?

Kami berkesimpulan tidak ada cara lain kecuali harus go retail. Kalau go corporate kami minta maaf karena Bank Muamalat mendefinisikan emotional market. Setahu saya tidak ada perubahaan besar atau dana pensiun yang beriman, ha..ha..ha.... Yang beriman itu manusianya.

Sejak kapan pola go retail itu dilaksanakan?

Setelah mengobati sakit bank ini dan baru menyadari dalam dua tahun ini. Kunci semua ini adalah jaringan karena kami go retail dengan populasi menyebar. Meski harus menyebar Bank Muamalat tidak sanggup membiayai yang mahal-mahal. Cara yang paling murah yakni kami menjalin MOU dengan PT Pos Indonesia dan baru saja tanda tangan dengan PT Pegadaian. Dengan PT Pos kita memperoleh 80 titik layanan dalam tahun ini. Berikutnya mungkin tidak terbatas. PT Pos kan masih punya 700 cabang. Kami sedang menyiapkan yang namanya model gerai. Bentuknya lebih kecil dari kantor kas.

Apakah model gerai itu sudah terasa manfaatnya?

To make an idea happen memang tidak terlalu mudah. Kami berkoar-koar selama dua tahun dan baru terwujud sekarang. Beberapa bulan lain kami mendapat izin Bank Indonesia untuk membuat dua percontohan di Lampung dan Batam. Ini kerjasama dengan PT Pos. ltu masih dianalisis dan belum selesai. Kami sudah siap untuk jalan jika selesai semua. Mudah-mudahan langsung 80 gerai nantinya.

Selain masalah jaringan tadi, kendala apa yang paling menghambat?

Hanya jaringan dan yang lain tidak ada. Hanya untuk membuka jaringan kembali kami harus melakukan inovasi dan meyakinkan regulator serta perlu modal. Konsep gerai ini sebenarnya cukup murah karena untuk 80 gerai hanya butuh Rp 3,6 miliar. Kalau dana itu untuk buka cabang, paling kami bisa buka dua buah cabang. Padahal scale of economic-nya belum tentu memadai. Misalnya, kita buka di suatu kota kan belum tentu sukses. Balik modalnya baru dua tahun dan harus menunggu dalam kondisi was-was. Dengan kami menyebar ini balik modal lebih cepat dan terbuka. Jika satu gerai tidak maju kami bisa langsung mengambil keputusan. Begitu pula yang maju mungkin bisa kami naikkan menjadi cabang. Sekaligus ini sebagai real market survey dan bukan analisis atas kertas semata.

Bank Anda terlampau hati-hati, kalau tidak hendak dikatakan konservatif. Apalagi bila dibandingkan dengan pendatang baru yang cukup agresif?

Kami juga tidak tahu apakah usia mereka memang lebih muda dari kita, ha...ha...ha.... Coba bandingkan salah satu bank syariah yang dari kami ternyata modalnya dua kali lipat. Pada saat berdiri kami sedang diterpa krisis moneter. Dia datang dengan dana segar. Kami mau buka cabang harus beli tanah yang mahal harganya. Dia mau buka cabang, kantor tinggal buka. Jadi masalahnya cukup kompleks dan bukan sekadar modal.

Bukankah Bank Muamalat baru mendapat suntikan dana dari Islamic Development Bank?

Benar, tapi dana itu tidak bisa digunakan untuk lari dalam bentuk cabang. Konsepnya begini. Kalau kami bermain atau bersaing dengan cara pesaing, maka kami akan kalah. Makanya, kami harus menemukan dan bermain dengan cara kami sendiri. Kalau yang lain kuatnya di cabang lalu kami paksa buka cabang, ya tidak akan menang. Lebih baik kami buka yang kecil dan pelan-pelan menjadi cabang kalau sesuai dengan perkembangan.

Bank Muamalat terfokus pada emotional market yang jumlahnya relatif kecil. Bagaimana Anda mengembangkan emotional market agar lebih besar?

Kami memang sering mendengar penyataan orang bahwa bank syariah jangan mencari emotional market karena 80% masyarakat tidak peduli. Yang mereka pedulikan adalah pelayanan dan jaringan. Kami menjawab dengan tegas bahwa kami tidak mencari yang mayoritas, tapi yang minoritas. Yang 10% atau 5% saja sudah cukup karena jumlahnya mencapai 9 juta orang. Kami sekarang baru memiliki 300 ribu nasabah. Nanti kalau emotional market sudah kami pegang semua baru berpikir tentang yang mayoritas itu. Untuk sekarang tidak dulu.

Mengapa Bank Muamalat terkesan super hati-hati dalam menjalankan bisnisnya?

Begini, saya juga bertanya Mengapa Bank Muamalat sampai buka lima cabang di Jakarta. Kami ini lembaga dakwah, bukan sekadar bisnis saja. Kami ini bukan bank yang dijalankan dengan sistem syariah. Kami organisme Islam yang berkecimpung di bidang perbankan. Jadi kalau pengawas utamanya Departemen Agama itu wajar-wajar saja. Misi kami memang lain.
Oleh karena itu fardhu kifayah kami sudah gugur di Jakarta. Karena itu mengapa harus sampai punya lima cabang? Karena sudah ada bank syariah di Gedung Arthaloka ini. Kalau ada yang bilang Gedung Arthaloka terlalu jauh. Saya menjawab sederhana saja, "you are not my costumer."

Jadi siapa sesungguhnya nasabah Bank Muamalat?

Nasabah kami adalah yang berkata: "mau jauh atau dekat, yang penting banknya halal." Lalu ada yang bilang bukankah 70% uang yang beredar di Indonesia ada di Jakarta. Kalau memang itu logikanya tidak usah buka bank syariah, dong. Kalau memang itu logikanya, apakah kita tahu bahwa 70% dari 70% perputaran uang tadi ada dikecamatan Tambora, Jakarta Barat. Kalau logika ini dipakai tentu Bank Muamalat akan bukan cabang di Tambora. Tapi, kenyataannya? Mungkin kita masih sama-sama belajar untuk mendirikan bank syariah.

Bagaimana langkah Anda menghadapi bank konvensional yang membuka divisi syariah sampai ke tingkat daerah, misalnya?

Satu setengah tahun lalu saya ditanya Bank Indonesia dan mungkin ditanyakan pada bank syariah yang lain. Pertanyaannya, "bagaimana pandangan Bank Muamalat tentang sistem window?" Jawaban saya cukup tegas waktu itu, apakah saya sebagai Bank Muamalat atau sebagai Ahmad Riawan Amin? Kalau ditanya sebagai Bank Muamalat jawaban: jangan, karena menjadi pesaing Bank Muamalat. Ini masalah bisnis. Tapi, kalau ditanya sebagai Riawan Amin, sebagai orang yang konsen dengan penegakan bank syariah di Indonesia, saya bilang tolong biarkan. Itu adalah jalan tercepat dalam dakwah bil hal.
Dari pada sosialisasi terus tapi tidak ada wujudnya, lebih baik lakukan saja. Setiap saat ceramah bunga bank adalah riba hingga orang merasa berdosa. Tapi, begitu umat bertanya di mana harus menyimpan uangnya, bank syariahnya belum dibuka.

Banyak yang menilai kemurnian model window patut dipertanyakan. Bahkan, bukankah Malaysia sudah meninggalkan model window?

Betul Malaysia sudah tidak menggunakan. Tapi, sosialisasinya di sana sudah menyebar dan berjalan cukup lama. Malaysia membesarkan dulu bank syariah lalu memurnikan. Kalau kita mau memurnikan tidak akan ada habisnya. Penuh debat dan furu’ dan akhirnya "maling-maling" itu yang terus besar. Sementara kita sibuk berdebat di antara pecinta ekonomi syariah ini.

Mengapa pasar bank syariah masih berkutat pada 10% tadi, seperti yang Anda sebutkan. Bagaimana Anda meyakinkan 80% Muslim Indonesia agar tertarik pada bank syariah?

Saya juga sulit memastikan jawabannya. Mudah-mudahan setelah BRI membuka divisi syariah akan membantu perkembangan bank syariah secara umum. Dalam pandangan kami sebagai Bank Muamalat selalu bilang, "if you are the market leader you promote the category and don't promote your self." Dengan ekonomi meningkat secara keseluruhan, percayalah yang terangkat juga Bank Muamalat sebagai pioner. Apalagi kalau kita melihat dari sisi demand and supply hampir tidak ada kompetisi di bank syariah.

Lalu mengapa perbankan syariah belum bisa meyakinkan 80% Muslim Indonesia tadi?

Mungkin Bank Muamalat ini terlalu kecil untuk bersosialisasi dengan 200 juta rakyat Indonesia dengan geografi yang sangat besar. Maka akan sangat aneh jika Malaysia yang ukuran negaranya jauh lebih kecil dari kita, dengan cerdik sekali berani mengambil window syariah. Sementara kita yang jauh lebih besar belum berani melakukan itu. Bagaimana kalau kita meyakinkan orang kalau orang belum pernah melihat wujud Bank Muamalat di daerahnya.

Pandangan Anda atas bank-bank asing yang segera membuka bank syariah di sini?
Dalam hal ini kita tidak membatasi untuk membicarakan Bank Muamalat saja. Saya bersyukur bank asing juga membuka bank syariah. Kalau kita melihat Malaysia, pasar dan kondisi mereka memang berbeda dengan kita.

Perbedaan paling mendasar?

Ini perlu ditekankan kembali. Kalau ada yang mengatakan jangan mengejar emotional market. Buktinya di Malaysia orang Cina jadi nasabah bank syariah. Saya hanya ingin mengatakan apakah Anda ingin enak didengar atau mau praktis. Di Malaysia kedengarannya indah karena ada dua hal. Pertama, karena 50% rakyat Malaysia non Muslim. Jadi kalau bank syariah juga mengejar mereka wajar saja. Kalau di Indonesia orang Islamnya saja belum semua yakin. Kedua, suku bunga bank di Malaysia masih suku bunga yang wajar. Sehingga keuntungan bank syariah yang berasal dari sektor riil bisa bermain. Kalau di Indonesia pada saat yang tidak wajar seperti ini, yang kita andalkan adalah penerimaan dari nasabah. Setidaknya inilah yang terjadi di Bank Muamalat.

Sampai kapan Bank Muamalat mengandalkan emotional market tadi?

Minimal sampai yang 9 juta orang itu jadi nasabah semua, ha...ha..ha.... Jumlah itu sangat besar bagi sebuah bank. Selain itu tergantung juga pada seberapa cepat perekonomian Indonesia ini menjadi perekonomian yang wajar.

Jika Bank Muamalat mengarah pada retail, produk apa saja yang akan ditawarkan pada nasabah agar mereka tertarik?

Kami ingin diversifikasi. Kami lihat tidak ada strategi yang salah atau menang. Yang penting adalah strateginya apa, kapan, dan dimana. Tentang produk baru ada filosofinya. Me-maintenance excisting costumer karena sudah tidak puas dengan produk yang ada. Atau untuk ekspansi ke pasar yang baru. Sehingga ketika kita masuk segmen harus menyediakan produk baru pula sesuai dengan segmen. Berdasarkan analisis tadi, pasar tidak masalah bagi kami karena masih banyak yang belum terjamah.
Pertanyaan saya, dengan pasar yang begitu luas dan orang yang sudah yakin dengan bank syariah, apakah saya perlu capek-capek berdebat menerbitkan produk baru. Apakah tidak lebih baik merebut pasar yang ada dulu. Orang masih banyak yang belum mengerti tentang murabahah dan mudharabah.

Tentang produk, apa produk andalan Bank Muamalat?

Kami punya yang namanya Tabungan ummat. Tapi, ini pandangan kami terhadap bank syariah. Kekuatan bank syariah bukan pada produk. Kekuatan bank syariah adalah pada konsep dan dasar skim yang mendasari semua produknya. Lapangan bermain dan bersaing bank syariah bukan pada produk, tapi skim syariah itu sendiri.

Jika konsumen menuntut produk baru yang lebih variatif?

Sebenarnya apa yang dituntut konsumen? Saya pikir 80% kebutuhan konsumen sudah kita penuhi. Problemnya dengan ekonomi yang sekarang ini adalah problem yang mengada-ada. Dibuat program derivatif dan sebangsanya. Saya rasa kita tidak usah mengada-adakan produk. Kalau masalah kredit card, kami akan melakukan belakangan. Ini jawaban manis dari saya. Kalau jawaban judes-nya, bila tidak punya uang jangan belanja, dong, ha..ha..ha.... Kalau itu dimaksudkan hanya sebagai alat pembayaran apa yang kita miliki sudah cukup.

Jika seperti itu Anda setuju dengan anggapan Bank Muamalat lambat berjalan atau bahkan konservatif?

Sebenarnya yang jadi masalah kita adalah bagaimana mengomunikasikan apa yang kita lakukan. Untuk sosialisasi ini kan butuh uang yang tidak sedikit. Untuk pasang iklan butuh uang banyak, ha...ha...ha.... Begini, yang kita kejar itu siapa. Kita asumsikan awareness Bank Muamalat itu tinggi. Bahwa detail Bank Muamalat seperti apa mungkin memang banyak yang bertanya-tanya.
Kami asumsikan kalau sudah tahu ada Bank Muamalat, tapi tidak kemari berarti mereka bukan pasar kami. Ini pada tahap sekarang. Jadi masalah kami mengomunikasikan pemakaian ATM BCA, itu masalah sekunder. Tapi, jaringan ATM kami lebih banyak dari BCA, karena selain ATM BCA kami punya ATM sendiri. Mereka datang ke Bank Muamalat karena ingin uang yang mereka simpan tidak menjadi bagian api neraka. Itu saja. Jadi kami sangat percaya diri ya, ha..ha..ha....
Makanya kompetitor kami berusaha menghindari tempat yang sudah ada Bank Muamalat. Masalahnya sulit akan head to head dengan kami seperti di Surabaya, Balikpapan, Bandung. Tapi, kami tidak ingin terlena dengan kondisi seperti ini karena tidak tahu apa yang terjadi lima atau sepuluh tahun ke depan.

OTHER AUTHOR REVIEW
  • Jurus Memangkas BPIH ...More >>
  • A Riawan Amin: Bank Syariah Punya Pasar Sendiri ...More >>
  • Berhasil berkat Iman dan Keyakinan ...More >>
  • Jalan Tengah Haram-Halal Ala Pemberontak ...More >>
  • ATM Kami Lebih Banyak dari BCA ( Wawancara ) ...More >>
  • Bukan Alternatif, tapi Solusi ...More >>
  • Great Manager = The Manager who Dares to Break the Rules ...More >>
  • Jangan Alergi Konsep Syariah ...More >>
  • Mempertahankan Sikap Egaliter ...More >>
  • Bawahan harus diberi kepercayaan mengekspresikan diri ...More >>
  • Nahkoda Perbankan Syariah Indonesia ...More >>
  • BOOK REVIEW
  • Zero Base Dalam Interaksi Sosial ...More >>
  • Menuju Manajemen Keabadian ...More >>
  • Terobosan Manajemen Khas Muamalat ...More >>
  • Mengubah Krisis Menjadi Prestasi ...More >>


  • Intellectual Property of A. Riawan Amin