AUTHOR REVIEW
Jalan Tengah Haram-Halal Ala Pemberontak
Sumber: Info Bank, No. 288 / Mei 2003 / Vol. XXV,Hal. 56--60

Ledakan kredit macet menjadi biang kerok hancurnya industri perbankan negeri ini. A. Riawan Amin, Direktur Utama Bank Muamalat Indonesia, menilai bahwa persoalan itu lahir akibat kesalahan sistem nilai. "Ini bukan mismanagement, melainkan misconduct. Artinya, kesalahan terjadi pada sistem nilai, seperti penggelembungan aset, mark up jaminan, mark up proyek, dan sebagainya, " ujar Wawan. sapaan akrabnya, kepada InfoBank, April lalu.

Menurut Wawan, dengan prinsip-prinsip syariah, kesalahan tersebut tak bakal terjadi. Sehingga, perbankan syariah pun mampu menjadi solusi penyakit ekonomi negara. Hanya, perbankan syariah menghadapi banyak rintangan. Pangsa pasar asetnya baru 1 % dari aset perbankan nasional. Keterbatasan saluran distribusinya pun belum mampu menjangkau potensi pasar yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Para praktisi, akademisi, dan regulator mestinya memiliki visi yang sama. "Sayangnya, pihak-pihak ini masih minder, masih belum punya confidence kepada perbankan syariah ini. Ngapain? Kita bukan bank syariah kalau dasar pemberangkatannya sudah tidak punya confidence, " tandas ayah Gianina Amadira (9), Calista Sakina (7), dan Ayasha Adiazzahra (2) ini. Padahal, menurut suami Mira Sri Ratna Damariati. perbankan syariah memiliki potensi pasar. Karena itu, perlu ada outlet syariah di setiap kecamatan di Indonesia.

Bagaimana prinsip syariah menguntungkan bank dan nasabahnya? Strategi apa yang dipakai Wawan dalam mendongkrak kinerja Bank Muamalat? Bagaimana pula dia membangun budaya perusahaan? Mengapa kepala divisi sumber daya manusia (SDM) di banknya dihapus?
Kendati mengaku sebagai pengkhianat profesi, menurut Wawan, ada nilai-nilai yang menjadi jurus dalam memajukan banknya. Apa jurus-jurusnya itu? A. Riawan Amin menuturkannya kepada Karnoto Mohamad dan Zaenal Abdurrani (fotografer) dari InfoBank di kantornya di Gedung Arthaloka, lantai 5, Jakarta. awal April lalu. Petikannya:

Apa visi Anda untuk mengembangkan perbankan syariah di Indonesia?
Saya sering sekali menekankan bahwa para pelaku perbankan syariah, dalam hal ini praktisi, akademisi, dan regulatornya, harus dalam satu visi. Misi sudah sama, tapi visinya harus kita satukan dulu. Sehingga, strategi yang akan kita laksanakan itu bisa saling bantu. Pihak-pihak ini masih minder, masih belum punya confidence kepada perbankan syariah ini. Ngapain? Kita bukan bank syariah kalau dasar pemberangkatannya sudah tidak punya confidence.
Di dalam diri kita masih selalu, contohnya, mengatakan bahwa konsep syariah ini adalah alternatif untuk memenuhi kebutuhan sebagian bangsa Indonesia yang tidak terjamah oleh bank konvensional. Harus disepakati bahwa ini adalah solusi. bukan alternatif.

Mengapa?
Perbankan syariah adalah solusi jangka panjang dalam rangka stabilisasi perekonomian nasional. Kita berharap, melalui pengembangan dan market share perbankan syariah yang dominan di Indonesia ini, kita akan mendapatkan sebuah perekonomian negara yang stabil, tidak bergantung kepada siapa pun selain kepada diri sendiri dan kepada Allah. Ini tugas besar, bukan tugas kecil.
Karenanya, kita tidak punya waktu untuk berlengah-lengah dan juga tidak punya waktu untuk berdebat secara akademis. Yang kita perlukan adalah market share. Bank Indonesia (Bl) sudah memasukkan dalam blue print-nya: pada 2011, pangsa pasar syariah adalah 5% dari perbankan nasional.

Apa visi Anda untuk mewujudkan harapan market share perbankan syariah?
Memastikan di setiap kecamatan di Indonesia ada outlet syariah. Bagaimana caranya, terserah otoritas moneter. Mau dipaksa mendirikan sebuah bank baru dan bank pemerintah yang langsung ada di semua kecamatan, atau dia mau konversi bank pemerintah yang terbesar. Atau, dia mau ciptakan windows-windows di antara bank konvensional, itu terserah. Itu adalah langkah praktis. Kalau begitu, ada dua hal yang krusial di sini. Mau dimurnikan dan disempurnakan baru dibesarkan atau mau dibesarkan baru dimurnikan dan disempurnakan.

Menurut Anda, lebih baik yang mana?
Saya cenderung kepada yang kedua. Karena, yang namanya murni nggak akan pernah selesai dan yang sempurna nggak akan pernah kita capai. Yang penting adalah market share. Toh, memang kita semua nggak sempurna. Toh, selama negara ini tidak sempurna, kenapa kita menuntut perbankan syariah sempurna.
Apakah kita lebih baik mempunyai bank syariah yang 100% murni syariah dengan market 5%? Atau, kita mempunyai perbankan murni syariah 50% dengan market share 50%? Saya pilih yang kedua. Karena, 50% dari 50% hasilnya masih setengah. Tapi, kalau 5% dari 100%, menjadi 5. Sebab, yang mana yang murni syariah itu sangat situasional. Jangan yang murni yang dikejar. Biarlah masyarakat yang menilai.

Apa yang menjadi penghalang visi pengadaan outlet syariah di setiap kecamatan?
Salah satu penghalang untuk itu adalah ketidakberanian kita menerapkan windows system seperti di Malaysia. Alasannya adalah bagaimana dalam satu toko kita menjual daging babi dan menjual daging sapi. Tukang babi sekarang menjual daging sapi, itu suatu kemajuan. Dalam kacamata syariah, Indonesia ini ekonomi haram.
Sebab, 4.000 cabang bank itu daging babi semua, sekarang kita kasih daging sapi supaya ada pilihan, itu satu kemajuan. Dan, daging sapi ini ditawarkan di seluruh Indonesia. Sehingga bukan hanya Anda, saya, dan ulama yang bisa menikmati produk halal daging sapi, tapi juga saudara-saudara kita di Maluku Utara, Gorontalo, juga merasakan.

Berapa persen penguasaan pangsa pasar syariah agar menjadi solusi ekonomi?
Itu debatable. Saya nggak bisa mengatakan. Tapi, kalau sudah 30% saja, sudah terasa. Tujuan utama bank syariah itu adalah stabilisasi perekonomian nasional.
Misi kami adalah 70% bank di Indonesia akan menjual barang halal. Agar menjadi solusi, idealnya, pangsa pasarnya harus besar. Kalau perlu, semua cabang bank itu syariah. Tapi, masalahnya, we learn from the past, we dream for the future, but at now.
Ini bagian dari eksternal. Kalau kita belum mampu melakukan semuanya, jangan kita tinggalkan sernuanya. Cara yang paling efektif atau cepat untuk mencapai dominasi perbankan syariah ke depan itu adalah kita relakan dulu toko babi menjual daging sapi.
Ini opportunity lost. Makin lambat perkembangan ini, makin banyak opportunity yang hilang untuk menjadikan ekonomi syariah ini menjadi solusi penyakit nasional.

Tapi stigma yang ada di publik, bank syariah hanya menjadi solusi untuk orang Islam?
Saya capai mendengar ini solusinya orang Islam. Ini solusi negara. Jadi, kita harus realistis.

Apa argumentasinya bahwa ini mampu menjadi solusi perekonomian negara?
Lihat, kenapa ekonomi kita ini hancur. Pertama, ini bukan mismanagement, tapi misconduct. Artinya, kesalahan terjadi pada sistem nilai, seperti penggelembungan aset, mark up jaminan, mark up proyek, dan sebagainya. BPK (Badan Pemeriksa Keuangan—Red) juga menyatakan bahwa kredit-kredit macet bank-bank pemerintah bukan karena faktor krisis ekonomi, melainkan faktor permainan.
Nah, ini berbeda dengan Bank Muamalat, misalnya. Kami juga punya kredit macet, tapi clear, itu disebabkan krisis ekonomi, bukan karena permainan. Dari sistem nilai, lingkungan ini akan membentuk. Kalau kita doa pagi, doa sore, minta supaya rezeki kita bersih, pada saat pemberian kredit kita baca doa, rasanva kecil kemungkinan terjadinya pengulangan kerusakan-kerusakan ke depan.

Ada 5C (character, capability, capital, collateral, and condition of economic) yang menjadi kriteria pemberian kredit di bank konvensional. Bagaimana di bank syariah?
Sama saja. Sebab, 5C sudah mencakup semua. Dan, yang paling penting adalah dari sisi karakter. Saya tidak berbicara akidah. tapi muamalah. Kalau akidah sangat spesifik. semua agama mengatakan pengikutnya saja yang selamat.
Tapi, dalam bermuamalah, baik Islam, Kristen, Hindu, Budha, atau apa pun, kalau dia orang baik, dia ingin diperlakukan dengan jujur. Jadi, values yang dipakai sangat universal. Kami memberikan fairness, sincerity, dan transparansi kepada semua customer.
We better have a good nonmoslem daripada a bad moslem. Kami nggak mencari orang Islam, tapi orang baik. The bad not the criteria untuk jadi nasabah. Dan. nasabah adalah good character dan bad character.

Apa skim yang mendasar di bank syariah?
Skim yang paling mendasar di bank syariah adalah bagi hasil. Problem perbankan yang sering kita dengar adalah negative spread, di mana pendapatan bunga lebih kecil daripada biaya bunga. Di bank syariah, itu tidak akan terjadi. Karena, kami hanya membagi apa yang kami dapatkan. Nasabahnya dapat kecil dia rela, dapat besar, dia senang.
LDR (loan to deposit ratio—Red) bank syariah adalah real sector based, bukan monetary based. Kalau bank syariah berjalan dengan baik, tidak ada buble growth yang disebabkan pertumbuhan sektor moneter yang tidak sejalan dengan sektor riil Karena. semua transaksi kita riil tidak ada yang derivatif. Semuanya itu punya underlying transaction.

Jadi, konsepnya bagi-hasil. Ada bagi rugi juga?
Dalam syariah dibolehkan dua metode, profit sharing ataupun revenue sharing. Dan, di Indonesia menganut sistem revenue sharing, artinya bagi untung, tidak bagi rugi. Kerugian nasabah adalah opportunity lost yield. Harusnya dia mendapatkan bunga yang tinggi, tapi tidak.

Apa motif banyak bank mendirikan unit bisnis syariah?
Macam-macamlah motifnya. Yang jelas, tidak ada yang mau ketinggalan kereta. Bahwa pada posisi tertentu, kalau bank nggak masuk, kita akan kehilangan market share. Prinsip utamanya

OTHER AUTHOR REVIEW
  • Jurus Memangkas BPIH ...More >>
  • A Riawan Amin: Bank Syariah Punya Pasar Sendiri ...More >>
  • Berhasil berkat Iman dan Keyakinan ...More >>
  • Jalan Tengah Haram-Halal Ala Pemberontak ...More >>
  • ATM Kami Lebih Banyak dari BCA ( Wawancara ) ...More >>
  • Bukan Alternatif, tapi Solusi ...More >>
  • Great Manager = The Manager who Dares to Break the Rules ...More >>
  • Jangan Alergi Konsep Syariah ...More >>
  • Mempertahankan Sikap Egaliter ...More >>
  • Bawahan harus diberi kepercayaan mengekspresikan diri ...More >>
  • Nahkoda Perbankan Syariah Indonesia ...More >>
  • BOOK REVIEW
  • Zero Base Dalam Interaksi Sosial ...More >>
  • Menuju Manajemen Keabadian ...More >>
  • Terobosan Manajemen Khas Muamalat ...More >>
  • Mengubah Krisis Menjadi Prestasi ...More >>


  • Intellectual Property of A. Riawan Amin