AUTHOR REVIEW
Berhasil berkat Iman dan Keyakinan
Sumber: Republika , No. / Th. XII / 23 Jan 2004, hal.16

Pertumbuhan bank-bank syariah dalam tiga tahun belakangan memang sangat membanggakan. Kini telah ada lebih dari empat bank syariah yang hadir di tengah masyarakat guna menawarkan transaksi keuangan yang Islami. Akan tetapi, tentu tidak mudah untuk mencapai keberhasilan tersebut karena membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Salah satu bank syariah yang juga turut mengembangkan diri adalah Bank Muamalat Indonesia (BMI), Bahkan, bank yang berkantor cabang di Gedung Arthaloka ini merupakan pelopor berdirinya bank syariah di tanah air.

Seperti disampaikan di atas, banyak rintangan dan perjuangan dihadapi pihak pengelola bank syariah, khususnya BMI, sebelum menuai hasil yang menggembirakan pada saat ini. Menurut penuturan Dirut BMI, Riawan Amin, perjuangan untuk mengembangkan BMI sungguh membutuhkan kerja keras dan kesabaran.

Ingatannya terlontar kambali ke bulan Juni 1999, tatkala dia dipercaya menjabat Direktur Utama di BMI. Memang menjadi sebuah tanggung jawab yang besar karena pada saat itu, kondisi negara ini tengah dihantam krisis moneter. Karena kondisi makro ini, BMI pun terimbas krisis yang besar pula.

Fakta yang ada adalah pada saat menerima tugas itu, Riawan mengaku mengambil alih tanggung jawab yang sangat besar dan berisiko, Kenapa demikian? Lantaran bank ini mengalami kerugian kurang lebih Rp 3 miliar per bulan. Posisi equity yang ada pun hanya tinggal sepertiga atau Rp 39 miliar dari modal awal sekitar Rp 140 miliar. "ltulah yang tertulis dalam surat serah terima yang saya tandatangani," kenangnya.

Satu hal masih terekam dalam ingatannya mengenai perasaan waktu itu, adalah tidak excited, tidak berbunga-bunga, tapi juga tidak ada sedikit pun rasa ragu. "Perasaan saya datar-datar saja."

Riawan mengaku tidak pernah bermimpi menjadi dirut. Semula dia hanya mengira akan diangkat sebagai direktur SDM karena memang sudah waktunya menjabat direktur. Pengangkatannya itu bisa dibilang unik. Pertama, karena nama-nama yang mengemuka pada bursa pemilihan adalah nama yang memang sudah top dari luar BMI. Tapi, akhirnya yang terpilih justru orang dalam. Orang dalam pun unik, karena Riawan menjadi dirut tanpa pernah menjabat direksi namun hanya kepala divisi, terlebih Riawan bukan bankir. Bidangnya adalah pengembangan SDM.

Inilah yang membuatnya unik. Tapi dia ingat teman-temannya pernah mengatakan, "Wajar-wajar saja BMI dipimpin oleh orang yang unik, karena pendirian BMI sendiri adalah sebuah keunikan." Pemilihan dirinya dilakukan mayoritas karyawan BMI.

Pada.waktu itu, imbuh Riawan, BMI masih dipenuhi nuansa politis dan bukan nuansa profesionalisme. Orang banyak yang menjadi aktivis, dan tidak menghasilkan karya. Pembicaraan lebih didominasi kepada yang sifatnya non teknis. Persaingan antardivisi berlangsung kurang sehat. "Namun kondisi itu malahan menjadi keuntungan yang saya punyai, sebab bidang saya adalah pemgembangan SDM."

Untuk mengubah itu semua, sejumlah langkah perbaikan dilakukan. Antara lain mereformulasikan dan meng-enforce visi dan misi serta corporate values. Dari situ dia melemparkan satu program yang bernama Muamalat Spirit. Yang juga signifikan adalah mengubah paradigma tentang penentuan sasaran kerja, perampingan organisasi agar makin efisien, dan perubahan penekanan dari orientasi kepada kantor pusat kepada unit bisnis.

Meski sudah menetapkan perubahan tersebut, tantangan masih menghadang. Katanya, saat itu lebih banyak yang mengatur daripada yang diatur. Lebih banyak yang mengawasi daripada yang diawasi. BMI misalnya, hanya punya 8 cabang. Sementara di kantor pusat ada 16 kepala grup, divisi dan direksi. Jadilah muncul istilah lebih banyak yang ‘numpang hidup daripada yang cari hidup.'

"Sekarang angka itu sudah tinggal lima grup, tiga direktur dan 33 cabang tepatnya 152 titik layanan di 20 provinsi," tukasnya. Meski begitu, dirinya agak menyesali dalam derajat tertentu dan ini memang terbukti bahwa makin senior seseorang akan makin sulit diubah.

ltulah yang kemudian terjadi, beberapa senior memutuskan berpisah dengan BMI. Tapi ada hikmah di balik itu. "Pindahnya beberapa senior dari BMI, menjadi blessing bagi yang bersangkutan maupun BMI.".

Ini kemudian banyak dipermasalahkan, termasuk oleh dewan pengawas. Ada kekhawatiran BMI itu bahaya karena kehilangan orang-orang yang pengalaman. Tapi Riawan kerap menjawab, "pengalaman itu kalau tidak ikhlas ya bagaimana. Seseorang pindah hingga dia bisa mengembangkan diri di tempat lain. Dan BMI pun dapat mengembangkan paradigma baru dengan orang-orang muda yang pikirannya masih lentur."

Prinsipnya, kalau tidak pernah mengubah paradigma, maka perusahaan tidak akan bisa jalan. Sampai kemudian, terjadilah di BMI satu dinamika perputaran yang membuatnya tetap bertahan. Hasilnya, belum genap satu tahun, bank ini sudah dapat membukukan keuntungan, walau masih belum mampu menutupi kerugian tahun sebelumnya.

Menurut Riawan, salah satu kuncinya adalah transparansi, terutama dalam hal keuangan. Kepada segenap stafnya, dia menegaskan, bahwa sejak saat ini segala yang berkaitan dengan laporan keuangan bukanlah hal yang rahasia. Terlebih BMI adalah perusahaan publik.

Pada akhirnya timbullah kompetisi yang kreatif. Dengan fokus perbaikan di internal perusahaan, Riawan bersyukur apa yang semula diharapkan, dapat terwujudkan selangkah demi selangkah.

Perkembangan pesat terjadi di tahun 2000. Untuk pertama kalinya BMI menembus aset hingga Rp 1 triliun. ltu artinya pengembangan 100 persen dari angka tahun sebelumnya. "Bila dipikir-pikir, ini sesuatu yang tak mungkin dalam konteks Muamalat, tapi bisa dilakukan. Saya selalu mengatakan, kenapa kalian tidak punya keyakinan. Dulu ketika mendirikan Bank Muamalat juga tidak mungkin, tapi bisa berdiri. Pokoknya, semua hal bisa dilakukan asal ada iman dan keyakinan."

Kini bersama seluruh jajaran BMI, Riawan tengah fokus untuk meluaskan jangkauan BMI agar mudah dijangkau masyarakat. Dia berpendapat, potensi perbankan syariah masih sangat besar.

Ayah tiga anak ini punya satu angan-angan, bila sekarang di Bank Indonesia (BI) ada Direktur Bank Syariah, nantinya juga ada Direktur Perbankan konvensional, karena BI-nya sudah jadi BI syariah. "Dan itu akan terjadi kalau memang seluruh transaksi perbankan di Indonesia adalah syariah," kata Riawan.

Ini bukan perjuangan untuk BMI semata, tegasnya, tapi adalah perjuangan untuk menegakkan kalimat Allah di bidang perekonomian.

OTHER AUTHOR REVIEW
  • Jurus Memangkas BPIH ...More >>
  • A Riawan Amin: Bank Syariah Punya Pasar Sendiri ...More >>
  • Berhasil berkat Iman dan Keyakinan ...More >>
  • Jalan Tengah Haram-Halal Ala Pemberontak ...More >>
  • ATM Kami Lebih Banyak dari BCA ( Wawancara ) ...More >>
  • Bukan Alternatif, tapi Solusi ...More >>
  • Great Manager = The Manager who Dares to Break the Rules ...More >>
  • Jangan Alergi Konsep Syariah ...More >>
  • Mempertahankan Sikap Egaliter ...More >>
  • Bawahan harus diberi kepercayaan mengekspresikan diri ...More >>
  • Nahkoda Perbankan Syariah Indonesia ...More >>
  • BOOK REVIEW
  • Zero Base Dalam Interaksi Sosial ...More >>
  • Menuju Manajemen Keabadian ...More >>
  • Terobosan Manajemen Khas Muamalat ...More >>
  • Mengubah Krisis Menjadi Prestasi ...More >>


  • Intellectual Property of A. Riawan Amin