AUTHOR REVIEW
A Riawan Amin: Bank Syariah Punya Pasar Sendiri
Sumber: Republika, 29 Desember 2005
Bagaimana proyeksi perkembangan industri perbankan syariah tahun depan? Saya perkirakan tumbuh dua kali lipat. Selain strategi khusus yang diterapkan masing-masing bank, ada kebijakan Bank Indonesia tentang office channeling. Kebijakan tersebut membuat unit usaha syariah (UUS) lebih besar dan produktif karena aksessibilitasnya meningkat dengan cara efisien. Misalnya, BSM bekerja sama dengan Bank Mandiri. BNI akan membuka kantor konvensionalnya untuk syariah juga. Dengan akses yang terbuka, kenaikan dua kali lipat bukan suatu yang luar biasa.
Terkait situasi ekonomi makro, perbankan nasional masih mengalami tahun yang berat. Bagaimana dengan bank syariah? Siapa sih bank syariah dan berapa besarnya sehingga mau terlalu mempedulikan kondisi ekonomi makro. Bank syariah punya dunia sendiri yang tidak sama dengan dunia perbankan lainnya. Jika dengan size yang masih 1,5 persen, kita mau ikut memikirkan prediksi-prediksi suram yang mungkin akan mempengaruhi bank yang pangsa pasarnya 20 persen, namanya kita mensabotase mental kita sendiri. Pengaruh makro tak terlalu signifikan. Kuncinya, bank syariah harus berani komitmen pada nasabah spiritual yang jumlahnya tidak kecil. Dari pada kita mengejar 'buih atau busa' yang kosong lebih baik kita kejar airnya yang jernih dan menyejukkan.
Apa prediksi Anda tidak terlalu optimistis? Kami terlau sering dicap overoptimistis. Banyak yang menyatakan kami irrasional. Kami percaya Hadis Qudsi yang menyatakan 'Aku bergantung pada prasangka hamba-Ku'. Kami yakin kondisi tahun depan lebih baik. Insya Allah, Allah akan menolong. Nyatanya kami mampu membuktikan. Saya tak percaya pada prediksi-prediksi. Walaupun, dalam menyusun anggaran Bank Muamalat kami konservatif. Kami sudah lama berhenti mengukur growth dari sisi aset. Bagi kami growth itu dari sisi profit. Tahun 2005 Bank Muamalat tumbuh 100 persen dari profit. Insya Allah. Tahun 2006 karena begitu banyak proyeksi kesuraman kami mengganggarkan 50 persen. Saya sendiri masih cukup meyakini tahun depan pun masih 100 persen.
Bagaimana dari sisi peraturan Sejauh bermanfaat kami dukung. Soal office channeling misalnya. Itu bagus untuk bank syariah. Kami termasuk yang berprinsip less governance is better. Lebih sedikit aturan akan lebih leluasa bagi bank syariah. Itu juga yang kami sampaikan terkait RUU perbankan syariah. Logikanya bagaimana bank syariah disuruh berlari sementara dikekang sana sini atau ibaratnya ekornya dipegangi.
Jika bisa tumbuh 100 persen, mengapa BMI menargetkan 50 persen Yang pertama, pemegang saham dan komisaris mengatakan target jangan terlalu tinggi. Yang kedua, kami sudah beberapa tahun lolos dari kerugian akibat krisis moneter. Artinya secara profitability kami sudah berprestasi. Setelah itu, sekarang kebijakan kami adalah ingin kembali memurnikah atau kembali ke misi awal Bank Muamalat. Tahun ini kami menetapkan tema 'Improve Quality and Go Retail.'Kami memang punya tema tiap tahun supaya target yang ingin dicapai selain angka juga jelas. Improve quality akan memperbaiki kualitas di segala lini. Sedangkan go retail artinya kami lebih fokus lagi di sektor usaha kecil dan menengah. Portofolio pembiayaan untuk sektor usaha kecil akan ditingkatkan jadi 80 persen.
Anda menyebut pemurnian. Apa maksudnya Selama ini kami meyakini survive nya Bank Muamalat dan gugurnya bank lain pada krismon lalu karena krisis likuiditas. Peran DPK itu sangat vital bagi kelangsungan sebuah bank. Kami lihat deposan Muamalat. Kami yakin hampir 80 persen atau mayoritas adalah the right market for us atau pasar syariah dan spiritual baik individu maupun institusi. Itu dari sisi dana. Dari sisi pembiayaan, siapa yang bisa menjamin debitur bank syariah datang karena keyakinan. Ini ada ketimpangan. Di sisi dana kita survive karena adanya deposan yang bersedia menderita untuk keyakinannya. Tapi disi aset kita melempar kepada orang yang datang tidak karena keyakinan atau mereka yang tidak mau menderita karena keyakinan. Jika dilakukan terus-menerus, ini namanya eksploitasi terhadap orang beriman. Kami ingin memurnikan pembiayaan untuk memperbaiki kualitas. Memang sulit mengukur debitur. Tapi kami akan minta mereka yang mengharapkan pembiaayaan bank syariah bersedia berbank tunggal dengan bank syariah. Selama ini pembiayaan dari bank syariah, tapi bisnis atau rekening aktif tetap menggunakan bank lain.
Tidakkah itu riskan? Memang ada risiko aset berkurang. Mungkin ada debitur yang tak mau lagi datang setelah melunasi cicilannya. Tapi kami ingin jadi diri sendiri. Tak mau menggelembung tapi tidak stabil. Coba saja diamati. Jika debitur diberi pembiayaan Rp 1 miliar, kemudian mereka berbisnis dan menggunakan bank konvensional untuk transaksi aktif, apa yang kita dapat. Berarti mereka tak meyakini bank syariah dan lebih buruk lagi tak bermaksud membesarkan bank umat. Buat apa kita membesarkan orang yang tak mau membesarkan bank umat pada dananya kita ambil dari dana umat. |
 |
OTHER AUTHOR REVIEW
Jurus Memangkas BPIH ...More >> A Riawan Amin: Bank Syariah Punya Pasar Sendiri ...More >> Berhasil berkat Iman dan Keyakinan ...More >> Jalan Tengah Haram-Halal Ala Pemberontak ...More >> ATM Kami Lebih Banyak dari BCA ( Wawancara ) ...More >> Bukan Alternatif, tapi Solusi ...More >> Great Manager = The Manager who Dares to Break the Rules ...More >> Jangan Alergi Konsep Syariah ...More >> Mempertahankan Sikap Egaliter ...More >> Bawahan harus diberi kepercayaan mengekspresikan diri ...More >> Nahkoda Perbankan Syariah Indonesia ...More >> |
|
 |
|