A. Riawan Amin
Cita-cita saya menjadi direktur sumber daya manusia. Tapi takdir mengantarkan saya duduk sebagai eksekutif puncak di Bank Muamalat. Kalau dilihat dari latar akademis, jelas saya bukan bankir. Sewaktu di New York Institute of Technology (1985), saya mempelajari Architectural Technology. Pun ketika mengambil Master di University of Texas, USA (1987), saya menekuni Interdisciplinary Study. Maka saat akhirnya pemegang saham mengangkat saya sebagai dirut, sampai ada yang komentar,”Bagaimana mau jadi dirut, kalau baca laporan keuangan saja tidak bisa?”
Bankir digambarkan sebagai orang yang bergelut dengan laporan keuangan, cenderung kepada angka-angka. Sementara SDM yang menjadi perhatian utama saya sejak menjadi Manajer Pelatihan dan Pengembangan Bank Universal (1992), dan kemudian dipercaya sebagai Vice President Organization dan Human Resources di Bank Muamalat (1994), lebih condong melihat manusia dan organisasi bisnisnya.

Rupanya pengalaman dan kemampuan saya di bidang sumber daya manusia justru menjadi kunci bagi kelancaran saya mengemban amanah para pemegang saham. Dengan dukungan penuh para kru, struktur organisasi Muamalat yang begitu gemuk di pusat (ada 16 divisi) kami pangkas hingga tinggal lima divisi. Sekat birokratis yang menghalangi ter-share-nya power, information, knowledge, dan rewards, dibuka. Interaksi antarkru lebih egaliter. Hasilnya, orientasi perusahaan kembali fokus kepada bisnis. Kinerja perseroan yang semula jeblok, kembali terdongkrak.

Bila pada tahun 1998, perseroan mengalami kerugian operasional hingga Rp 105 miliar, dengan perjuangan semua lini dan atas izin Allah, pelan tapi pasti, kinerja pun terkerek naik. Berturut-turut dari tahun 2000-2002, perseroan menorehkan laba sebesar Rp 10,85 miliar, Rp 50,32 miliar, dan Rp 32,15 miliar.


***

Saya lahir di Tanjung Pinang, Riau, 27 April 1958 dari pasangan Mr. Muh. Amin asal Tapanuli Selatan dan Cut Mariam dari Aceh. Saya bersyukur, kedua orang tua kendati pernah menduduki jabatan cukup tinggi di daerah, selalu mengajarkan kesederhanaan hidup, tak mau menyusahkan orang. Di samping, mereka memberikan keteladanan dalam nilai-nilai kejujuran, kepedulian terhadap sesama.

Mereka menanamkan kepada saya pentingnya nilai-nilai agama. Belakangan, ketika saya bermukim di Amerika dan bergaul dengan berbagai tokoh agama dari luar negeri, sikap itu makin menguat. Dalam soal nilai saya sangat kolot dan konservatif. Tapi kalau soal perbedaan saya termasuk yang terbuka.

Sistem nilai perlu ditekankan karena hemat saya sistem ini yang menjamin semua aspek berjalan sesuai yang diharapkan. Bila kebenaran ditegakkan, maka keadilan akan dirasakan. Menegakkan kebenaran memang bukan tanpa risiko. Saya beruntung mempunyai mertua seperti HM Sanusi yang dalam hal ini memilih masuk bui ketimbang harus berkompromi dengan penguasa. Orang tua dan mertua saya mengajarkan satu garis yang tegas, jangan pernah membukuk-bungkukkan kepada kekuasaan, tapi kepada kebenaran…

AUTHOR REVIEW
  • Jurus Memangkas BPIH ...More >>
  • A Riawan Amin: Bank Syariah Punya Pasar Sendiri ...More >>
  • Berhasil berkat Iman dan Keyakinan ...More >>
  • Jalan Tengah Haram-Halal Ala Pemberontak ...More >>
  • ATM Kami Lebih Banyak dari BCA ( Wawancara ) ...More >>
  • Bukan Alternatif, tapi Solusi ...More >>
  • Great Manager = The Manager who Dares to Break the Rules ...More >>
  • Jangan Alergi Konsep Syariah ...More >>
  • Mempertahankan Sikap Egaliter ...More >>
  • Bawahan harus diberi kepercayaan mengekspresikan diri ...More >>
  • Nahkoda Perbankan Syariah Indonesia ...More >>

  • BOOK REVIEW
  • Zero Base Dalam Interaksi Sosial ...More >>
  • Menuju Manajemen Keabadian ...More >>
  • Terobosan Manajemen Khas Muamalat ...More >>
  • Mengubah Krisis Menjadi Prestasi ...More >>


  • Intellectual Property of A. Riawan Amin