F A Q

Frequently Asked Questions ( FAQ )
1. Apakah The Celestial Management (CM) itu?

CM adalah pendekatan manajemen baru yang nilai-nilainya didasarkan pada ajaran langit, firman Tuhan, dan sabda Rasul-Nya.

2. Apa bedanya The Celestial management dengan manajemen konvensional?


CM menggeser paradigma ilmu manajemen lama yang kental dengan motivasi duniawi kepada motivasi ukhrawi. Ilmu manajemen tidak lagi dalam pengertian getting things done through the people, melainkan getting God’s will done by the people. Yang pertama menempatkan CEO sebagai pusat koordinasi yang perintahnya harus dijalankan kru tanpa terkecuali, tidak dengan pendekatan kedua. Tugas seorang CEO dalam pendekatan kedua adalah memfasilitasi sebuah lingkungan yang sesuai dengan spirit moal, yang bisa dipertanggungjawabkan di hadapan manusia, sekaligus Tuhan.

Penerapan CM pada akhirnya tidak hanya menciptakan good corporate governance,melainkan melaksanakan prinsip God’s corporate governance dengan presisi transparansi dan akuntabilitas yang tinggi.

3. Apa konsep dasar dalam CM?

Konsep CM berpijak pada upaya untuk membumikan visi langit yang diimplementasikan antara lain melalui sharing values yang mendukung dalam tiga katagori utama. Kategori pertama adalah a place of Worship atau menjadikan tempat bekerja kita sebagai tempat penyembahan. Nilai-nilai yang disemaikan terkumpul dalam akronim ZIKR (Zero Base, Iman, Konsisten, Result Oriented).

Kategori kedua a place of Wealth atau menjadikan institusi tempat bekerja sebagai pusat dari berkumpul dan dibaginya kesejahteraan. Untuk mewujudkan impian ini, dilakukan sharing PIKR (Power, Information, Knowledge, dan Rewards).

Dan kategori terakhir adalah a place of Warfare atau upaya menjadikan tempat kita bekerja sebagai medan pertempuran untuk memenangkan persaingan dan terus memelihara kesinambungannya. Nilai-nilai yang ditransformasikan untuk mewujudkan cita-cita ini terangkum dalam akronim MIKR (Militan, Intelek, Kompetitif, dan Regeneratif).

4. Bagaimana aplikasi 12 atribut ZIKR-PIKR-MIKR dalam ilustrasi sehari-hari?

Berikut pemaparan ilustrasi inti dari ZIKR-PIKR-MIKR seperti yang tercantum dalam Bab Nol buku The Celestial Management:

Berjalan di atas papan sepanjang 10 meter di atas tanah bukanlah hal istimewa. Tapi bila kini papan itu dibentangkan di antara dua gedung kembar setinggi 20 meter, masihkah Anda bisa melakukannya tanpa jaring pengaman di bawah? Kebanyakan orang menggelengkan kepala. Mereka takut berada di ketinggian. Mereka cemas tiupan angin yang cukup besar akan menggoyahkan langkah dan akhirnya membuatnya terjerembab jatuh.

Akan tetapi, bila di ujung gedung sana ada seorang bayi —anak Anda sendiri— yang perlu diselamatkan, masihkah Anda bilang tidak? Wajar bila kali pertama bimbang, namun dengan niat suci dan hati bersih untuk menyelamatkan keturunan, ketakutan akan segala risiko itu pelan-pelan sirna. Hati yang bersih tidak terkungkung oleh dominasi pengalaman masa lalu. Pada saat yang sama, hati yang jernih tidak terobsesi kepada masa depan. Ia juga tidak terbelit oleh kecintaan dunia. Satu-satunya yang menjadi tujuan hidupnya adalah ridha Ilahi.

Inilah karakter utama dari orang yang ber-Zero Base. Orang yang memandang segala sesuatu dengan bersih, apa adanya, dan bebas prasangka. Disebut bersih karena ketika ia mulai melangkahkan kakinya untuk menyeberang, diniatkan untuk sesuatu yang suci. Bersih dari segala yang kotor. Bukan keinginan untuk dianggap hebat, dan karenanya mendapat pujian banyak orang. Dikatakan apa adanya karena dia melihat fakta papan yang dibentangkan di antara dua gedung itu sejatinya sama dengan yang diletakkan di atas tanah, minus hembusan angin. Dan dinyatakan bebas dari prasangka, karena dia tidak menganggap pekerjaan itu hanya bisa dilakukan oleh seorang akrobatik ulung sehingga kalau orang biasa saja yang melakukannya akan bernasib sial.

Pendeknya, ia tidak under estimate alias merasa rendah diri, sebaliknya ia juga tidak terlalu percaya diri, tapi percaya Allah. Cara pandang seperti ini akan meruntuhkan ketakutan dan kecemasan, mengubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Mengapa menjadi mungkin? Karena banyak hal yang sifatnya impossible, tapi sepele saja di mata Allah. Sejatinya, bukan orang itu yang melakukan, tapi kekuasan Allah-lah yang menolongnya melakukan hal hebat. Dia bisa mendapatkan pertolongan Allah, karena dia yakin. Inilah kekuatan Iman. Kekuatan yang menjelma, yang mencipta keajaiban ketika sesuatu dilakukan atas dasar kepercayaan atas kehadiran dan eksistensi Allah. Percaya terhadap sesuatu yang ghaib, yang tidak bisa dideteksi dengan panca indra, termasuk percaya bahwa masa depan adalah milik Allah, sehingga apa yang dilakukan manusia sebenarnya hanya melakukan prediksi, yang bisa benar sebagaimana juga bisa salah.

Iman memberi kekuatan spiritual. Iman menghilang-kan rasa cemas dan takut. Namun begitu, hilangnya teror ketakutan itu juga muncul karena ia bisa melakukan hal yang dipandang orang lain berbahaya dan mengancam keselamatan jiwanya dengan Konsisten. Setiap inci dia bergerak, dia membawa niat, motivasi, dan tujuan yang sama.

Ia konsisten menjaga arah tujuan untuk sampai pada titik sasaran: ujung gedung lain dan menyelamatkan sang anak. Banyak orang yang bisa membuat rencana dengan baik, namun saat tiba implementasinya, mereka tidak konsisten untuk mengarahkan pada satu tujuan yang telah ditetapkan. Akibatnya keselarasan yang diharapkan muncul tidak tercipta, digantikan dengan kebimbangan oleh berbagai tarikan dan motif yang berbeda.

Dalam kasus menyeberang papan, bila di tengah jalan kaki yang sudah dilangkahkan berubah irama menjadi lebih cepat (karena buru-buru ingin mencapai tujuan) atau lebih lambat (karena kehabisan tenaga), maka keselarasan yang semestinya dipelihara gagal dipertahankan dan akhirnya tujuanpun sulit diraih. Inilah mengapa orang tersebut perlu lebih berhati-hati dan memfokuskan usahanya pada tercapainya sasaran.

Dengan kata lain ia perlu Result oriented. Upaya menyeberang papan tidak lain dilakukan untuk menyelamatkan anak, inilah result yang diinginkan. Anak adalah hasil fisik yang bisa diindrai. Namun, lebih dari itu, tujuan menyelamatkan anak yang jauh lebih tinggi adalah untuk mencari ridla Ilahi. Karena menyelamatkan satu nyawa, di mata Allah seperti menyelamatkan seluruh umat manusia. Artinya, ridla Ilahi adalah the ultimate result.

Bila pada akhirnya dia gagal menyelamatkan sang anak dan malah mengakibatkan dirinya celaka karena jatuh setelah semua sumberdaya dan keahlian dikerahkan, dia masih mendapatkan apa yang dia niatkan. Tidak ada proses yang dianggap sia-sia di mata Allah. Semuanya bernilai. Karena itu, result oriented yang dimaksudkan bukan sekadar mengutamakan pencapaian tujuan, tapi juga memperhatikan bagaimana prosesnya dilakukan. Dengan kata lain, tidak ada ruang menghalalkan cara di sini. Dari awal, proses didasarkan pada niat yang bersih, berakhir dengan hasil yang murni: mardhatillah.

Inilah implikasi sederhana dari konsep ZIKR (Zero base, Iman, Konsisten, Result Oriented). Keempat atribut ini tali-temali membentuk jalinan proses. Ibarat sebuah pesawat, berawal dari landasan pacu yang bersih (Zero base). Bahan bakarnya Iman. Sang pilot Konsisten mengarahkan pesawat ke tujuan yang pasti (Result oriented): mardhatillah.

---

Konsep ZIKR yang dipahami dan diterapkan oleh seseorang akan menempatkannya sebagai individu yang berpotensi unggul. Empat atribut ini menjadi modal dasarnya dalam mengelola kegiatan dan pekerjaan untuk menghasilkan yang terbaik.

Namun, modal ini perlu digenapi dengan atribut lain manakala lingkungannya berubah. Ketika ia tidak lagi bekerja untuk diri sendiri, melainkan bersama-sama dengan kru lainnya duduk dalam sebuah tim. Bagus tidaknya kinerja sebuah tim, tidak lagi ditentukan oleh keunggulan satu-dua krunya, namun oleh kekompakan mereka menjalankan fungsi masing-masing.

Penyelesaian tugas akan sangat tergantung dari banyak faktor, salah satunya pendelegasian kekuasaan atau kita sebut disini sebagai Power Sharing. Dalam permainan sepakbola, kapten tim adalah jendral lapangan. Kalau ia terjebak menguasai bola untuk dirinya sendiri, ia akan gagal mengantarkan timnya menjaringkan bola ke gawang lawan. Keberhasilannya justru ketika ia mampu mengoordinasikan penyerangan dengan memberikan umpan-umpan yang akurat dan terarah kepada penyerang. Pada saat yang sama, ia mampu menahan serangan balik lawan dengan, misalnya, meng-instruksikan anggota timnya untuk melakukan zona marking yang ketat. Pendeknya, kapten bisa memotivasi anggota tim apakah itu kiper, gelandang, back, maupun penyerang untuk bisa memainkan peran terbaiknya.

Kemampuan timnya untuk menguasai lapangan, juga ditentukan oleh terbaginya informasi (Information sharing) yang diperoleh. Misalnya, formasi seperti apa yang kira-kira bakal diterapkan lawan. Siapa pemain lawan yang akan merumput. Berapa banyak yang sedang mendapatkan kartu kuning atau bahkan kartu merah sehingga kemungkinan besar dibangkucadangkan.

Informasi internal tak kalah penting. Misalnya, berapa bonus yang diberikan kepada pemain yang berhasil menyarangkan bola ke gawang lawan. Semua bentuk informasi ini langsung maupun tidak langsung akan menjadi panduan bagi anggota tim untuk mengukur kira-kira strategi dan taktik apa yang akhirnya bakal dipilih untuk memenangkan pertandingan.

Pendelegasian kekuasaan dan pembagian informasi yang diperlukan menjadi sia-sia bila tidak terjadi saling berbagi pengetahuan dan ketrampilan (Knowledge sharing) sehingga yang mengetahui teknik-teknik permainan hanya itu-itu saja. Akibatnya, sebagian kru tidak cukup ketrampilan untuk mengeksekusinya.Terlalu muluk bicara masalah formasi atau taktik, bila basic skill yang harus dikuasai setiap pemain ternyata masih mentah. Untuk itu, kemampuan teknik dasar dalam sepakbola, seperti bagaimana mengontrol bola (ball controling), cara mengumpan (passing skills), menggiring bola (dribbling skills), teknik menyundul bola (heading techniques), semestinya sudah di luar kepala.

Knowledge tidak hanya terkait dengan kemampuan pemain dalam menggocek bola. Pemain yang tidak memiliki knowledge yang cukup tidak mengetahui bagaimana agar dia bisa mencapai peak performance-nya. Termasuk, misalnya, nutrisi apa yang perlu banyak dikonsumsi. Sebaliknya, jenis makanan dan minuman apa yang perlu banyak dihindari.

Setelah kekuasaan didelegasikan, informasi diperoleh, dan pengetahuan dan skil dikuasai, tinggal satu hal yang perlu dipoles: naluri mencetak gol. Pemain akan berlomba-lomba menjadi mesin gol efektif bila ia cukup terangsang dengan balasan yang akan ia terima. Imbal balik untuk pemain kita sebut di sini sebagai Rewards sharing.

Rewards menjadi insentif yang terus memacu para pemain untuk terus bermain agresif agar bisa memetik kemenangan. Pemain yang membuktikan dirinya bermain cantik, tidak hanya akan menerima Rewards dari klubnya saja. Para pemandu bakat dari berbagai klub bergengsi mengincarnya. Tidak heran bila, kadang mereka mau membeli sang pemain dengan nilai transfer yang mencengangkan.

Rewards juga tidak selalu berbentuk uang, tapi juga penghargaan. Dalam hal ini, hampir pasti dia juga akan populer. Para wartawan mengubernya. Apapun yang keluar darinya menjadi berita. Kini dia tidak lagi sekadar pemain bola, tapi sekaligus selebriti.

Perwujudan dari keempat atribut : Power, Information, Knowledge, dan Rewards inilah yang membentuk konsep PIKR. Kalau ZIKR titik beratnya merangsang pribadi yang unggul, PIKR memberikan resep dan prasarat agar kru yang terhimpun dalam sebuah tim bisa melanggengkan keunggulannya.

Secara harfiah ZIKR berarti mengingat Allah, sementara PIKR berarti memberdayakan akal. ZIKR membersihkan hati, PIKR mencerahkan nalar. Manusia yang ber-PIKR eksis di antara sesamanya, ZIKR menggenapinya dengan eksis di mata Tuhannya.

---

Jika pribadi-pribadi matang yang dibentuk dari konsep ZIKR bertemu dalam sebuah tim yang solid yang terlahir dari rahim PIKR, apa yang akan terjadi selanjutnya? Mereka akan menjadi tim unggulan (The winning team)!

Kalau berupa organisasi bisnis, mereka akan mengalahkan pesaingnya. Kalau mereka pasukan tempur, mereka akan menundukkan musuhnya. Inilah yang dilakukan dengan gemilang oleh pasukan di bawah komando Thariq bin Ziyad saat menduduki Spanyol pada tahun 711 M.

Tim yang dipimpin Thariq membuka kemenangan dengan langkah berani, tak populis, bahkan tak masuk akal. Ia perintahkan kapal-kapal pembawa pasukannya dibakar. Tak ada kapal, tak bisa lari. Hanya satu pilihan, maju menerjang musuh lalu menjadi syahid atau mengalahkan mereka dan kemudian hidup mulia.

Pilihan sulit ini tidak mungkin lahir dari pribadi pengecut. Hanya orang berjiwa gagah dan bersemangat juang tinggi yang mungkin melakukannya. Di sini kita menyebutnya sebagai orang Militan. Daya juang tinggi tercermin dari semangat mereka untuk siap sedia mengorbankan harta dan jiwa bagi kepentingan perjuangan.

Bisa dimengerti mengapa orang militan tidak takut mati. Kematian hanyalah jalan yang mendekatkan mereka dengan Allah sekaligus meraih janji-Nya. Meskipun mereka siap mati, bukan berarti mereka bersedia mati konyol. Sebab, mereka terjun ke medan juang bukan sebagai kurcaci yang menyerahkan kepalanya untuk diinjak, sebaliknya sebagai pribadi yang terlatih.

Militansi akan berfungsi maksimal manakala orang-orangnya pandai mendayagunakan akalnya untuk mencarikan solusi dari berbagai masalah yang dihadapi. Kita menyebutnya Intelek.

Sebelum kapal menjadi abu, banyak dari anggota pasukan yang memprotes kebijakan komandannya. Bukankah merusak alat perjuangan bertentangan dengan hukum Allah? Juga, bagaimana nanti mereka pulang ke kampung halaman? Thariq menjawab kegalauan itu seraya mengatakan: “Setiap negeri adalah kepunyaaan Allah. Di situ juga kampung halaman kita.” Jawaban yang sungguh menggugah. Ringkas, tapi mengena. Ekspresi intelek dari penuturnya.

Intelektualitas yang dibangun di atas fondamen militansi akan menciptakan pejuang yang siap menyum-bangkan kemampuan terbaiknya. Dengan kata lain, sikap militansi yang bersinergi dengan intelektual akan menyumbangkan hasil terbaik. Kita menyebutnya di sini sebagai Kompetitif.

Kompetitif dicirikan oleh keunggulan. Mengapa bisa unggul? Karena sumber daya insani yang dimiliki kompeten. Dalam penaklukan Spanyol, pasukan Thariq hanya berjumlah 7.000 orang. Sementara pasukan Roderick dari bangsa Gotik jauh berlipat. Namun, pasukan Thariq lebih memiliki motivasi untuk menang. Gebrakannya membakar kapal, menempatkan prajuritnya pada posisi maju terus: menang atau mati.

Ciri kedua dari kompetitif, kemampuan menciptakan efisiensi. Dalam organisasi bisnis, efisiensi sering ditunjukkan dengan kemampuan menekan harga barang dan jasa yang ditawrakan dengan harga yang lebih rendah. Dalam kasus Thariq, efisiensi ditunjukkan dengan pemberian layanan dengan nilai tambah yang jauh lebih besar dari pesaing. Misi pasukan ini jelas, datang untuk menegakkan keadilan dan memberantas kezaliman dan bukan untuk meraup kemegahan. Di bawah kekuasan Gotik dari Jerman, rakyat Spayol ditindas. Tentu, mereka yang umumnya memeluk Kristen dan Yahudi itu lebih menyambut pasukan Thariq yang menawarkan perlindungan dari pada hidup di bawah ketiak Roderick yang penuh ancaman.

Sejarah mencatat penaklukan Spanyol sebagai momentum historis penting bagi terbukanya pencerahan Eropa. Abdurrahman Ad-Dakhil pada 755 mendirikan Masjid Cordova dan menjadi Amir pertama di Andalusia. Pada masa Abdurrahman Al-Aushat, Andalusia menjadi pusat ilmu pengetahuan di daratan Eropa. Pada tahun 912, Abdurrahman An-Nasir mendirikan universitas Andalusia dengan perpustakaan dengan koleksi ratusan ribu buku. Kejayaan dan masa keemasan Islam di Spanyol mulai merebak sampai pada khalifah Hakam. Orang dari berbagai negeri di sekitarnya datang untuk belajar. Masa kegelapan Eropa tersibak. Bening embun ilmu pengetahuan berkembang mengikis kepercayan buta dan dogma.

Dari satu generasi ke generasi berikutnya lompatan kesuksesan terjalin. Kita menyebut kemampuan ini dengan daya Regeneratif. Kemapuan regeneratif ditunjukkan dengan terus diwariskan dan dipeliharanya keunggulan kompetitif yang dimiliki dalam waktu lama.

Bila Thariq berperan membuka dan membebaskan, pada generasi ini mencerahkan dan menyejahterakan. Pusat-pusat studi dibanjiri ribuan pelajar, baik Islam dan Kristen. Ladang-ladang pertanian Spanyol tumbuh dengan subur. Sistem hidraulik untuk pengairan dikenalkan.

Jalinan empat atribut yang menonjol dalam sejarah Islam di Spanyol inilah yang mencerminkan konsep MIKR (Militan, Intelek, Kompetitif, dan Regeneratif). Komunitas MIKR akan melahirkan organisme yang kuat, unggul dan bertahan lama.

Apa hubungannya konsep ini dengan konsep sebelumnya? Konsep ZIKR mengilhami individu untuk menyandarkan semua aspek aktivitasnya semata-mata untuk meraih ridha Allah. ZIKR membangun keselarasan manusia sebagai makluk terhadap Allah sebagai Khaliknya. Hubungan yang akrab kita sebut sebagai menguatkan tali vertikal kepada Allah (hablum minallah). Bila tali ini kuat, ‘tangan-tangan’ Allah niscaya hadir dalam setiap kesulitannya.

Bersamaan dengan itu, setiap kru juga harus membangun keselarasan dengan kru yang lain (hablum minannas). Pada dataran ini konsep PIKR bermain. Dengan berbagi informasi dan ilmu pengetahuan, seorang kru bisa mengeksekusi wewenangnya dengan baik. Pada akhirnya ia akan mendapatkan imbalan yang sesuai dengan prestasi yang ditunjukkannya.

Sharing PIKR hanya bisa berjalan optimal bila dilandasi filosofi ZIKR. Keberhasilan sharing PIKR selanjutnya akan melahirkan komunitas MIKR. Dalam bahasa Jawa mikir berarti proses untuk berpikir. Interaksi yang tak hanya dilandasi akal, tapi juga hati yang kemudian menjadikan organisme yang dinaunginya menjadi organisme yang unggul. Wallahu a’lam.n



Intellectual Property of A. Riawan Amin